Ntvnews.id, Jakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa Pertamax merupakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sehingga penetapan harganya mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Karena itu, penyesuaian harga yang dilakukan Pertamina merupakan konsekuensi dari kenaikan harga energi global.
Menurut Teddy, berbeda dengan Pertamax, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar agar tidak membebani masyarakat.
"Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik," kata Teddy saat dihubungi, dikutip dari Antara, Jumat, 12 Juni 2026.
Ia menjelaskan, meskipun Pertamina telah menaikkan harga Pertamax dan sejumlah BBM nonsubsidi lainnya sejak 10 Juni 2026, harga BBM jenis RON 92/95 di Indonesia masih berada di bawah harga yang berlaku di beberapa negara Asia Tenggara.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Pemberian Insentif Usai Kenaikan BBM Nonsubsidi
Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak berdampak pada harga BBM bersubsidi. Hingga kini, harga Pertalite tetap berada di level Rp10.000 per liter, sedangkan Solar bersubsidi tetap Rp6.800 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax mengalami penyesuaian dari sebelumnya Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026.
"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan. Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," kata Teddy.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan keterangan media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh) (Antara)
Dalam penjelasannya, Sekretariat Kabinet turut membandingkan harga BBM RON 92/95 di sejumlah negara Asia Tenggara. Harga BBM sejenis di Filipina tercatat mencapai Rp22.158 per liter, Laos Rp31.945 per liter, Thailand Rp28.910 per liter, Myanmar Rp25.085 per liter, dan Singapura Rp42.971 per liter.
Keterangan tersebut disampaikan Sekretariat Kabinet melalui unggahan resmi pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB, bertepatan dengan berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta.
Dalam aksi tersebut, sejumlah kelompok mahasiswa, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah. Salah satu tuntutan yang disuarakan massa aksi adalah penurunan harga BBM.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kenaikan yang terjadi saat ini hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Adapun harga BBM bersubsidi yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat tetap dipertahankan dan tidak mengalami perubahan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (Istimewa)