Ntvnews.id, Jakarta - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan peningkatan aktivitas militer yang signifikan di perairan strategis Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resmi terbarunya, militer AS mengonfirmasi telah melakukan tindakan tegas terhadap ratusan kapal komersial sebagai bagian dari operasi blokade yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
CENTCOM mengklaim telah mengalihkan rute 141 kapal komersial dan melumpuhkan sembilan kapal lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap zona blokade yang ditetapkan Washington di jalur perdagangan minyak dunia tersebut.
"Hingga 13 Juni, pasukan CENTCOM telah mengalihkan rute 141 kapal komersial dan melumpuhkan sembilan kapal untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade," tulis pernyataan resmi CENTCOM melalui platform media sosial X, 14 Juni 2026.
Blokade ini merupakan buntut dari rangkaian eskalasi bersenjata yang mengguncang Timur Tengah sejak awal tahun. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih pada 28 Februari lalu, ketika pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah titik strategis di Iran.
Serangan yang menyasar ibu kota Teheran tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah serta memakan korban dari kalangan sipil.
Pihak Iran merespons tindakan tersebut dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan berbagai fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Teheran menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan bentuk pertahanan diri yang sah berdasarkan hukum internasional.
Di tengah dentuman meriam dan blokade maritim, jalur diplomasi sebenarnya tetap diupayakan. Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata sementara untuk meredakan ketegangan. Namun, stabilitas yang diharapkan tak kunjung terwujud sepenuhnya.
Perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, beberapa waktu lalu berakhir tanpa terobosan berarti. Meski kedua belah pihak duduk di meja perundingan, perbedaan pandangan yang tajam mengenai keamanan regional dan hak kedaulatan masih menjadi ganjalan utama.
Saat ini, fokus diplomasi beralih pada penyusunan rancangan nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan dapat menjadi kerangka kerja menuju kesepakatan damai yang lebih permanen.
Meskipun proses negosiasi sedang berjalan, situasi di Selat Hormuz tetap mencekam. Laporan di lapangan menunjukkan bahwa baik Amerika Serikat maupun Iran masih sesekali terlibat dalam aksi serangan terbatas yang bersifat sporadis.
Para analis maritim memperingatkan bahwa blokade yang terus berlanjut di Selat Hormuz-jalur di mana hampir seperlima konsumsi minyak dunia melintas dapat memicu ketidakpastian ekonomi global. Pengalihan rute 141 kapal komersial tersebut dipastikan akan berdampak pada biaya logistik internasional dan keterlambatan pasokan energi ke berbagai negara.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Iran belum memberikan komentar resmi terkait klaim terbaru CENTCOM mengenai pelumpuhan sembilan kapal di bawah pengawasan mereka.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Selat Hormuz. ANTARA/Anadolu/py. (/ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)