Ntvnews.id, Jakarta - Sejumlah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dilaporkan mulai melancarkan tekanan secara tertutup kepada Amerika Serikat (AS). Fokusnya satu yakni meminta Washington meninjau kembali kebijakan sanksi terhadap Rusia yang dinilai mulai menjadi senjata makan tuan bagi stabilitas ekonomi global.
Kabar mengenai upaya lobi di balik layar ini diungkapkan oleh Duta Besar Keliling Kementerian Luar Negeri Rusia untuk Urusan G20 dan APEC, Marat Berdyev. Menurutnya, negara-negara anggota G20 mulai mengkhawatirkan dampak sistemik dari kebijakan sanksi yang terlalu agresif.
Dalam wawancara eksklusif dengan RIA Novosti, Berdyev membeberkan bahwa diskusi intensif terjadi di luar sorotan kamera. Sejumlah ekonomi utama memberikan peringatan kepada Washington mengenai risiko besar dari penggunaan sanksi yang berlebihan.
"Sejauh yang kami ketahui, sejumlah ekonomi besar secara tertutup menjelaskan kepada pihak Amerika mengenai dampak merugikan dari penggunaan sanksi secara berlebihan," ujar Berdyev, Minggu, 14 Juni 2026.
Negara-negara tersebut, lanjut Berdyev, meyakinkan Washington bahwa pembatasan yang dianggap tidak sah secara hukum internasional ini justru akan memperburuk risiko dan tantangan yang sudah ada di pasar global, mulai dari inflasi hingga gangguan rantai pasok energi.
Kekhawatiran G20 ini tampaknya mulai didengar oleh Gedung Putih. Pada April lalu, Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan bahwa Washington memutuskan untuk memperpanjang pengecualian sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia melalui jalur laut.
Langkah ini diambil menyusul permintaan mendesak dari sejumlah peserta forum G20 yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa pengecualian yang semula dijadwalkan berakhir pada 16 Mei, kini telah diperpanjang setidaknya untuk 30 hari tambahan guna menghindari guncangan mendadak di pasar minyak dunia.
Meski demikian, Berdyev mencatat bahwa dalam forum resmi G20, isu pelonggaran sanksi secara spesifik tidak dibahas secara publik untuk menjaga sensitivitas politik antaranggota.
Rusia sendiri tetap pada posisinya yang menantang. Presiden Vladimir Putin berkali-kali menegaskan bahwa strategi Barat untuk melemahkan Rusia melalui sanksi ekonomi adalah kebijakan jangka panjang yang gagal mengenai sasarannya secara telak, namun justru merugikan warga dunia.
"Sanksi tersebut tidak hanya berdampak pada Rusia, tetapi juga memberikan pukulan serius terhadap perekonomian global secara keseluruhan," tegas Putin dalam pernyataan sebelumnya.
Menurut Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya mengatakan bahwa kebijakan menahan dan melemahkan Rusia merupakan strategi jangka panjang negara-negara Barat.
Baginya, sanksi tersebut tidak hanya berdampak pada Rusia, tetapi juga memberikan pukulan serius terhadap perekonomian global secara keseluruhan.
(Sumber: Antara)
Tangkapan layar dari halaman depan situs resmi G20 yang diakses pada 2 Desember 2025. (g20.org) (Antara)