Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/ Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa ketahanan mental atau resilience menjadi salah satu kemampuan terpenting yang harus dimiliki generasi muda Indonesia dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Generasi Berencana (Genre) ke-16 di Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Wihaji, generasi muda saat ini hidup di tengah perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat, sehingga membutuhkan kesiapan mental yang kuat untuk beradaptasi dan tetap berkembang.
Wihaji menjelaskan bahwa kemajuan AI telah menciptakan peradaban baru yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan perubahan pola interaksi masyarakat. Kondisi tersebut membuat generasi muda menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Mendukbangga Tekankan Resiliensi Mental Remaja dan Konsep 'Ready to Live' Menuju Indonesia Emas 2045
"Hari ini kita membutuhkan kesiapan mental untuk bangkit yang kita sebut dengan resilience, karena algoritma peradaban yang dipengaruhi AI membuat batas antara mana yang benar, mana yang salah, mana yang menjadi tuntunan, dan mana yang menjadi tontonan menjadi semakin bercampur," katanya.
Menurutnya, kemampuan menyaring informasi secara cerdas menjadi keterampilan penting di tengah banjir konten digital yang terus berkembang setiap hari.
Wihaji juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 46 juta keluarga yang memiliki anggota berusia 10 hingga 24 tahun. Kelompok usia tersebut akan menjadi generasi penerus yang memegang peran strategis dalam pembangunan nasional pada dua dekade mendatang.
Ia menilai persiapan generasi muda tidak cukup hanya berfokus pada pencapaian akademik. Karakter yang kuat, mental yang tangguh, serta kemampuan menghadapi tantangan juga harus menjadi perhatian utama.
Baca Juga: Kemendukbangga Pastikan TPK Siap Dukung Perluasan Program MBG bagi Ibu Hamil, Menyusui dan Balita
"Setuju tidak setuju, 17 sampai 20 tahun lagi kalian (generasi muda) yang akan memimpin Indonesia, sehingga yang harus disiapkan bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kematangan mental dan kemampuan untuk bangkit menghadapi tantangan," ungkapnya.
Meski mengakui AI membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, Wihaji mengingatkan bahwa teknologi tersebut harus digunakan secara bijak. Generasi muda dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah mempercayai setiap informasi yang beredar di ruang digital.
Menurutnya, verifikasi informasi menjadi langkah penting untuk menghindari penyebaran hoaks, disinformasi, maupun konten yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan remaja.
Dalam menghadapi tantangan era digital, Wihaji menilai Program Generasi Berencana (Genre) memiliki peran strategis dalam membimbing remaja Indonesia. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keluarga dan karakter generasi muda.
"Genre menurut saya menjadi bagian dari jawaban bagi jutaan keluarga Indonesia yang memiliki remaja. Mereka tidak hanya membutuhkan pegangan, tetapi juga membutuhkan tuntunan dan arah yang jelas," imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak melalui penerapan delapan fungsi keluarga, termasuk fungsi agama yang berperan sebagai pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari.
(Sumber: Antara)
(Wihaji) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (NTVNews)