Mayoritas Warga Israel Anggap Iran Menang dalam Konflik Lawan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 07:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Hasil survei yang dilakukan oleh Hebrew University of Jerusalem dan Agam Labs menunjukkan mayoritas masyarakat Israel menilai Iran sebagai pihak yang keluar sebagai pemenang dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel.

Sebanyak 92 persen responden dalam survei tersebut menyatakan keyakinannya bahwa Iran berhasil unggul dalam perang yang melibatkan AS dan Israel.

Jajak pendapat itu melibatkan 3.644 warga Israel berusia 17 tahun ke atas. Metode survei dirancang untuk mencerminkan komposisi penduduk Israel berdasarkan sejumlah faktor, seperti jenis kelamin, usia, agama, wilayah tempat tinggal, pilihan politik dalam pemilu, tingkat religiusitas, latar belakang etnis responden Yahudi, hingga afiliasi keagamaan responden Arab.

Dari keseluruhan sampel, sekitar 83 persen merupakan responden Yahudi, sementara 17 persen lainnya berasal dari komunitas Arab.

Temuan survei juga memperlihatkan bahwa 82,9 persen warga Israel menilai kampanye militer terhadap Iran justru berdampak negatif terhadap keamanan jangka panjang negara mereka. Selain itu, 86 persen responden menyatakan pandangan yang tidak positif terhadap hasil konflik tersebut.

Ketidakpercayaan publik terhadap klaim pemerintah juga terlihat dalam hasil survei. Sebanyak 72,5 persen responden menyatakan tidak yakin dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut negaranya telah meraih kemajuan besar dan berhasil menghilangkan ancaman nyata.

Baca Juga: Dari Mana Biaya Rekonstruksi AS untuk Iran Sebesar Rp5 Triliun?

Lebih jauh, 87,8 persen responden menilai Israel gagal mencapai sasaran militernya atau hanya mampu memenuhi sebagian target yang telah ditetapkan selama konflik berlangsung.

Meski demikian, survei tersebut juga menunjukkan adanya dukungan terhadap langkah militer lanjutan. Sebanyak 48,8 persen warga Israel mendukung operasi besar baru terhadap Hezbollah, bahkan jika tindakan tersebut berpotensi memicu ketegangan dengan Amerika Serikat.

Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump beberapa kali dilaporkan mendesak Netanyahu agar menghentikan serangan ke Lebanon. Permintaan itu menjadi bagian dari nota kesepahaman (MoU) yang disepakati antara Washington dan Teheran.

Kesepakatan tersebut mencakup penghentian pertempuran di berbagai wilayah yang melibatkan AS, Israel, dan sekutu mereka, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, serta pembahasan mengenai masa depan program nuklir Teheran.

Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. <b>(Anadolu)</b> Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu)

Salah satu poin penting dalam MoU tersebut adalah penghentian konflik di Lebanon yang secara tidak langsung juga berkaitan dengan aktivitas Hizbullah, sesuai dengan tuntutan Iran.

Namun, serangan Israel ke wilayah Lebanon disebut masih berlanjut, bahkan pada hari yang sama ketika Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut dari lokasi masing-masing.

Sebagai respons, Iran mengingatkan bahwa mereka dapat membatalkan kesepakatan itu dan menolak membuka kembali Selat Hormuz apabila serangan terhadap Hizbullah terus berlangsung.

Survei ini menggambarkan tingginya keraguan publik Israel terhadap hasil konflik serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menghadapi Iran, sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di dalam masyarakat terkait langkah militer yang harus diambil ke depan.

x|close