Kemhan Lakukan Evaluasi Menyeluruh Latsarmil Setelah 2 Peserta SPPI Meninggal Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 19:45
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Anggota Komponen Cadangan (Komcad) melakukan parade defile usai Upacara Penutupan Latsarmil Komcad ASN Kementerian/Lembaga Gelombang I di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026. Anggota Komponen Cadangan (Komcad) melakukan parade defile usai Upacara Penutupan Latsarmil Komcad ASN Kementerian/Lembaga Gelombang I di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan tengah melakukan evaluasi komprehensif terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) menyusul meninggalnya dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat menjalani pendidikan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan evaluasi dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional dan pihak penyelenggara pendidikan guna meninjau seluruh aspek pelaksanaan program.

"Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program," kata Rico dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurut Rico, langkah evaluasi tersebut bertujuan mengidentifikasi berbagai hal yang masih perlu diperbaiki agar pelaksanaan pendidikan latsarmil ke depan semakin aman dan berkualitas.

Beberapa aspek yang menjadi fokus peninjauan antara lain sistem seleksi kesehatan peserta, mekanisme pengawasan medis selama pendidikan, penanganan peserta yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, hingga prosedur komunikasi dan pelaporan.

"Kami akan mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan," ujarnya.

Kemhan, lanjut Rico, juga membuka ruang terhadap berbagai kritik dan masukan dari masyarakat maupun pihak terkait sebagai bahan perbaikan program.

"Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel," kata Rico.

Sebelumnya, dua peserta Program SPPI yang dipersiapkan menjadi pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar kemiliteran.

Kedua peserta tersebut adalah Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Rico menjelaskan, Anisa meninggal dunia ketika mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Anisa dinyatakan meninggal akibat heat stroke.

Heat stroke atau sengatan panas merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika tubuh terpapar suhu panas ekstrem sehingga suhu inti tubuh meningkat hingga mencapai atau melampaui 40 derajat Celsius dan sistem pengatur suhu tubuh tidak lagi mampu berfungsi dengan baik.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia saat menjalani pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja.

Menurut Rico, kondisi fisik Yonanda sempat menurun pada 17 Juni 2026 sehingga yang bersangkutan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat 'cardiac arrest' atau henti jantung," katanya.

Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian Kemhan dalam upaya memperbaiki sistem penyelenggaraan latsarmil agar aspek keselamatan peserta dapat semakin ditingkatkan pada pelaksanaan program berikutnya.

(Sumber: Antara)

x|close