Gerakan Ayah Ambil Rapor, Mendukbangga Ingatkan Anak Jangan Sampai Diasuh HP

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Jun 2026, 11:58
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (depan, mengenakan kopiah) saat berinteraksi di ruang kelas dengan para ayah yang mengambil rapor anak-anaknya di MAN 1 Yogyakarta, Kamis, 25 Juni 2026. Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (depan, mengenakan kopiah) saat berinteraksi di ruang kelas dengan para ayah yang mengambil rapor anak-anaknya di MAN 1 Yogyakarta, Kamis, 25 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Yogyakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menekankan pentingnya keterlibatan orang tua, khususnya ayah, dalam pengasuhan anak. Melalui Program Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar), ia mengingatkan agar anak tidak tumbuh dengan ketergantungan pada ponsel hingga menjadikan perangkat tersebut sebagai pengganti peran orang tua.

Saat menghadiri kegiatan di MAN 1 Yogyakarta, Kamis, 25 Juni 2026, Wihaji menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari kondisi yang menunjukkan masih banyak anak kehilangan figur ayah dalam kehidupannya. Menurut dia, situasi itu berpotensi memengaruhi kesehatan mental anak, sementara penggunaan gawai justru semakin tinggi.

"Kita ada Program Gemar, mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita (25 persen) itu fatherless (kehilangan peran ayah) dan memiliki masalah mental, tetapi rata-rata mereka bisa memegang handphone setiap hari 8,7 sampai 10 jam," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji.

Baca Juga: Kemendukbangga Koordinasi Izin Pegawai Ikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor

Ia menilai teknologi kini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak sehari-hari. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang istirahat malam, berbagai aktivitas anak banyak dipengaruhi oleh penggunaan ponsel, termasuk ketika mencari jawaban atau informasi melalui teknologi Akal Imitasi (AI).

"Hari ini algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kita, kalau enggak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kita, tetapi handphone," ujar Mendukbangga Wihaji.

Dalam dialog bersama para ayah dan pengasuh, Wihaji membagikan pengalamannya yang masih rutin mengantar anak ke sekolah. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut menjadi kesempatan berharga untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan anak.

"Ini yang penting bagaimana orang tua hadir. 1-2 jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol, kalau nyetir pasti enggak memegang handphone," ucap Mendukbangga Wihaji.

Baca Juga: Kemendukbangga Susun Buku Kesehatan Reproduksi Berbasis Siklus Hidup untuk Tingkatkan Literasi Masyarakat

Selain memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, Wihaji menegaskan bahwa kehadiran ayah secara emosional dan psikologis juga sangat dibutuhkan. Ia mengajak para orang tua untuk meluangkan waktu mendengarkan cerita dan keluh kesah anak agar hubungan keluarga tetap terjalin erat.

"Kalau dulu curhat sama orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Tanya apa saja, belajar berjudi ada di situ, dan dijawab padahal AI enggak punya rasa. Algoritma otak perilakunya seperti robot. Sejelek-jeleknya makan, bareng, ngobrol, jangan main HP sendiri-sendiri," tutur Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji.

(Sumber: Antara)

 
 
x|close