Ntvnews.id, Washington D.C - Kepala Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Markwayne Mullin, menuai perhatian setelah mengaku merasa sangat gembira atas tersingkirnya tim nasional Iran dari ajang Piala Dunia 2026.
Dilansir dari BBC, Rabu, 1 Juli 2026, Mullin secara terbuka menyatakan bahwa dirinya bahkan "menari gembira" setelah mengetahui langkah Tim Melli terhenti di fase grup turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Timnas Iran gagal melaju ke babak gugur setelah kalah selisih gol. Skuad asuhan Amir Ghalenoei sebenarnya sempat mencetak gol pada menit-menit akhir pertandingan melawan Mesir, tetapi gol tersebut dianulir wasit karena dinilai terjadi offside dalam situasi yang sangat tipis.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, menyebut timnya sebagai skuad yang "paling tertindas" sepanjang turnamen, terutama di tengah ketegangan politik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menjelang dimulainya turnamen, kamp latihan timnas Iran dipindahkan dari Arizona, Amerika Serikat, ke Tijuana, Meksiko. Selain itu, mereka juga menghadapi berbagai pembatasan perjalanan selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Tim berjuluk Team Melli sejatinya masih memiliki peluang lolos ke babak 32 besar melalui jalur peringkat ketiga terbaik. Namun, harapan tersebut pupus setelah pertandingan antara Aljazair dan Austria di grup lain berakhir imbang.
Menanggapi tersingkirnya Iran, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin kemudian menyampaikan pernyataan kontroversial.
Baca Juga: Di Kota Iran Mana Pemakaman Ali Khamenei?
"Saya senang mereka sudah selesai, dan mereka tidak akan kembali. Saya sangat senang ketika kami dapat mencabut visa mereka dan mengatakan mereka dapat meninggalkan wilayah AS, dan saya mungkin menyanyikan satu atau dua lagu atau bahkan menari dengan gembira."
Mullin juga mengungkapkan bahwa tim nasional Iran menjadi delegasi yang paling banyak menimbulkan tantangan administratif bagi otoritas Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
"Tidak ada satu pun tim yang harus kami tangani lebih lama daripada Iran," ujar Mullin.
Sepanjang fase grup, tim nasional Iran hanya diperbolehkan memasuki wilayah Amerika Serikat sehari sebelum menjalani dua pertandingan pertama mereka. Mereka juga diwajibkan meninggalkan wilayah AS pada hari yang sama setelah pertandingan berakhir sesuai dengan ketentuan visa yang berlaku.
Upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 sebelum pertandingan pembuka Grup A Babak Pertama Piala Dunia antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca (Stadion Meksiko) di Kota Meksiko, Meksiko pada 11 Juni 2026. (Antara)
Pembatasan tersebut baru sedikit dilonggarkan pada pertandingan terakhir fase grup di Seattle, ketika tim Iran diizinkan tiba dua hari lebih awal. Namun, setelah pertandingan yang berlangsung pada Sabtu, mereka kembali harus bertolak ke Tijuana.
Pelatih Amir Ghalenoei sebelumnya mengkritik perlakuan yang diterima timnya selama Piala Dunia. Ia menilai Amerika Serikat, yang menjadi tuan rumah bersama bersama Kanada dan Meksiko, telah memperlakukan skuad Iran secara tidak adil.
Menurut Ghalenoei, timnya hanya memperoleh waktu latihan "kurang dari setengah" dari yang dibutuhkan untuk persiapan optimal selama turnamen.
Baca Juga: AS dan Iran Hentikan Serangan Sementara, Bahas Selat Hormuz dalam Pertemuan di Doha
Sementara itu, kapten timnas Iran, Mehdi Taremi, juga mengungkapkan bahwa situasi politik yang menyelimuti timnya telah mengurangi atmosfer kompetisi.
"Ketegangan semacam ini merusak kegembiraan Piala Dunia. Saya merasakan ketegangan sejak saat pertama kami tiba."
Pernyataan-pernyataan tersebut kembali menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat turut memengaruhi jalannya partisipasi Team Melli di Piala Dunia 2026.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu)