Ntvnews.id, Berlin - Gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor terus melanda Italia dan kawasan Balkan sepanjang pekan ini. Kondisi cuaca tersebut memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan serta potensi bertambahnya korban jiwa akibat suhu yang sangat tinggi.
Di Italia, pemerintah setempat mengeluarkan peringatan cuaca panas tingkat "merah" untuk 22 kota pada Senin, 29 Juni 2026. Peringatan tersebut mencakup wilayah dari Bolzano di bagian utara hingga Palermo di Pulau Sisilia, Italia selatan.
Di Kota Vatikan, para peziarah terlihat menggunakan kipas tangan dan payung untuk melindungi diri dari terik matahari ketika Paus Leo menyampaikan pesan Angelus dari balkon Basilika pada perayaan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus.
"Dengan panas ekstrem, risiko kebakaran hutan meningkat, tetapi kita juga melihat banyak badai hujan, yang jelas mengurangi risiko tersebut," kata Presiden Masyarakat Meteorologi Italia, Luca Mercalli, dikutip dari Reuters, Rabu, 1 Juli 2026.
Sementara itu, badan meteorologi Kroasia juga mengeluarkan peringatan cuaca merah untuk sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Zagreb serta kota-kota tujuan wisata seperti Split dan Dubrovnik.
Sebagian besar kawasan Balkan juga mengalami suhu ekstrem, dengan temperatur diperkirakan melampaui 35 derajat Celsius di beberapa wilayah Kroasia, Serbia, Rumania, dan Hungaria.
Para ahli meteorologi memperkirakan gelombang panas yang melanda Eropa masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem di Jerman Bikin Aspal Meleleh, Layanan Trem Terhenti
Gelombang panas yang mulai melanda Eropa sejak pertengahan Juni tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap sistem layanan kesehatan, merusak infrastruktur, serta mengganggu operasional sejumlah pembangkit listrik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 kematian yang berkaitan dengan gelombang panas di Eropa sejak 21 Juni.
Para ilmuwan menilai fenomena cuaca ekstrem tersebut "hampir tidak mungkin" terjadi tanpa adanya perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Melalui unggahannya di platform X, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut bahwa Eropa kini menjadi benua dengan tingkat pemanasan tercepat di dunia, dengan laju pemanasan mencapai dua kali lipat dibandingkan rata-rata global.
Ilustrasi suhu panas (pixabay/ geralt) (Pixabay )
"Tekanan panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap'. Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini," ujar Ghebreyesus.
Peningkatan suhu ekstrem di Eropa kembali memunculkan kekhawatiran global mengenai dampak perubahan iklim, terutama terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan infrastruktur, serta meningkatnya ancaman bencana seperti kebakaran hutan di berbagai negara.
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Utara. ANTARA/Fransisco Carolio. (Antara)