Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jul 2026, 20:57
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Warga menyejukkan diri di air mancur umum untuk mengatasi suhu tinggi selama gelombang panas ekstrem di Milan, Italia, pada Kamis, 25 juni 2026. Warga menyejukkan diri di air mancur umum untuk mengatasi suhu tinggi selama gelombang panas ekstrem di Milan, Italia, pada Kamis, 25 juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan hingga kini belum menerima laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan pemerintah terus memantau situasi melalui perwakilan-perwakilan Indonesia di berbagai negara Eropa. Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan, belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban maupun terdampak langsung akibat cuaca panas tersebut.

"Kami sudah berkoordinasi dengan perwakilan-perwakilan kami di sana dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak, yang melaporkan, atau menjadi korban dari heatwave; itu belum," kata Heni Hamidah di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Meski demikian, perwakilan RI di kawasan Eropa tetap mengingatkan WNI agar meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti berbagai langkah mitigasi guna mengurangi risiko akibat suhu ekstrem yang sedang terjadi.

Baca JugaKemlu Pastikan Tidak Ada WNI Terdampak Gempa M7,7 di Filipina Selatan

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan dampak serius dari gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan laporan yang dikutip Anadolu pada Minggu, 28 Juni 2026, lebih dari 1.300 kematian tambahan tercatat akibat suhu ekstrem yang terjadi sejak 21 Juni.

"Lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tedros menilai paparan panas berlebih merupakan ancaman yang kerap tidak disadari banyak orang.

Ghebreyesus menyebutkan stres akibat panas merupakan "pembunuh senyap", apalagi bangunan rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menahan suhu setinggi itu.

Baca JugaKemlu RI Dampingi WNI Korban Dugaan Penganiayaan oleh Majikan di Malaysia

WHO saat ini terus bekerja sama dengan negara-negara anggota dan berbagai mitra untuk memperkuat kesiapsiagaan, pencegahan, serta respons sistem kesehatan dalam menghadapi cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close