ASEAN Serukan Persatuan Hadapi Ketidakpastian Geopolitik di Pertemuan Menlu ke-59

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jul 2026, 14:11
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Para Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN berfoto bersama dalam upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung selama sepekan hingga 24 Juli ini mempertemukan para menteri luar negeri dan diplomat senior dari negara-negara anggota ASEAN serta negara-negara kekuatan utama—termasuk Turki, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, dan sejumlah negara Uni Eropa—untuk membahas isu-isu internasional dan regional terkait tantangan geopolitik, pasokan energi, perdagangan, pangan, kerja sama keamanan, serta perang saudara di Myanmar dan dampak konflik AS-Iran. Para Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN berfoto bersama dalam upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung selama sepekan hingga 24 Juli ini mempertemukan para menteri luar negeri dan diplomat senior dari negara-negara anggota ASEAN serta negara-negara kekuatan utama—termasuk Turki, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, dan sejumlah negara Uni Eropa—untuk membahas isu-isu internasional dan regional terkait tantangan geopolitik, pasokan energi, perdagangan, pangan, kerja sama keamanan, serta perang saudara di Myanmar dan dampak konflik AS-Iran. (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Para menteri luar negeri ASEAN resmi memulai Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 di Manila, Filipina, pada Selasa, 21 Juli 2026. Pertemuan tersebut dibuka dengan seruan untuk memperkuat persatuan dan mendorong tindakan bersama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, ketegangan maritim, serta konflik yang masih berlangsung.

Saat membuka pertemuan tahunan tersebut, Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P. Lazaro mengatakan ASEAN harus menghadapi kondisi global yang penuh tantangan melalui langkah penyelesaian masalah yang aktif dan terarah.

Menurut Lazaro, dunia saat ini berada dalam situasi yang dipenuhi oleh "gejolak, ketidakpastian, kondisi yang tidak dapat diperkirakan."

"Ada urgensi yang mendalam dalam pekerjaan kita," kata Lazaro, seraya meminta negara-negara anggota ASEAN untuk mencari "solusi kreatif dan jalur yang layak, bahkan dalam situasi yang paling sulit dan selama diskusi yang paling kompleks," ujar Lazaro.

Baca JugaIndonesia Siap Jadi Tuan Rumah Dialog ASEAN untuk Dukung Penyelesaian Krisis Myanmar

Lazaro juga mengutip tema kepemimpinan ASEAN Filipina tahun 2026, "Navigating Our Future, Together". Ia menegaskan ASEAN harus mengambil peran dalam menentukan arah masa depan kawasan.

"Kita tidak hanya hanyut bersama arus; kita mengemudikan kapal saat kita menentukan arahnya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lazaro turut menyoroti Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) yang pada tahun ini memasuki peringatan ke-50. Ia menyebut TAC sebagai landasan penting dalam menjaga stabilitas regional.

Lazaro menggambarkan TAC sebagai "jangkar paling andal" ASEAN. Menurutnya, prinsip saling menghormati kedaulatan, non-intervensi, serta penyelesaian sengketa secara damai tetap menjadi dasar utama hubungan antarnegara di kawasan.

Baca JugaJunta Myanmar Tolak Permintaan ASEAN Bertemu Aung San Suu Kyi

"Dalam lanskap global yang terpecah-pecah, tidak ada satu negara pun yang dapat mengatasi badai ini sendirian. Kekuatan dan ketahanan kita terletak pada komunitas kita. Jika kita tidak bergerak maju bersama, kita berisiko terpecah belah," katanya.

Dalam AMM ke-59, para menteri luar negeri ASEAN akan mengevaluasi perkembangan kerja sama dalam tiga pilar utama, yaitu politik-keamanan, ekonomi, serta sosial-budaya.

Hasil pembahasan tersebut nantinya akan disampaikan sebagai rekomendasi kepada para pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Selain membahas penguatan sentralitas ASEAN dan percepatan integrasi kawasan melalui Visi Komunitas ASEAN 2045, para menteri juga akan membicarakan peningkatan kerja sama dengan berbagai mitra eksternal.

Isu keamanan regional diperkirakan menjadi perhatian utama selama pertemuan berlangsung. Beberapa topik yang akan dibahas meliputi upaya menghidupkan kembali inisiatif perdamaian ASEAN di Myanmar, negosiasi kode etik Laut China Selatan bersama China, serta dampak ekonomi dari konflik global yang mengganggu jalur energi dan perdagangan dunia.

Pertemuan di Manila akan berlangsung hingga Jumat, 24 Juli 2026. Agenda tersebut juga mencakup pertemuan dengan mitra dialog ASEAN, ASEAN Plus Three, KTT Asia Timur, serta Forum Regional ASEAN.

Forum tersebut akan mempertemukan sejumlah kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, India, dan Uni Eropa untuk membahas berbagai tantangan keamanan di tingkat regional maupun global.

(Sumber: Antara)

x|close