Ntvnews.id, Washington - Pemerintah Iran menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi. Penolakan tersebut terjadi di tengah konflik antara kedua negara yang telah berlangsung hampir dua pekan.
Laporan The New York Times, yang mengutip sejumlah pejabat Iran dan Irak, menyebutkan bahwa al-Zaidi membawa usulan tersebut saat melakukan kunjungan ke Teheran usai bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.
Isi lengkap proposal itu belum dipublikasikan. Namun, pejabat Iran menyatakan usulan tersebut merupakan satu-satunya tawaran yang diajukan Washington saat ini. Teheran menolaknya karena dianggap belum menyentuh persoalan kendali atas Selat Hormuz.
Media Iran melaporkan kunjungan al-Zaidi ke Teheran menjadi lawatan resmi pertamanya sejak dilantik sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, al-Zaidi tidak hanya bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, tetapi juga Ketua Tim Negosiasi sekaligus Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Baca juga: Inggris Tarik Sementara Staf Kedutaan dari Iran karena Alasan Keamanan
Masih berdasarkan laporan itu, para pejabat Iran mulai bersiap menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas apabila Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Iran beserta infrastruktur strategis lainnya.
Dua pejabat Iran mengatakan kepada The New York Times, seperti dikutip Anadolu, bahwa serangan tersebut berpotensi membuat Iran memperluas konflik ke tingkat regional, termasuk dengan menargetkan Tel Aviv.
Iran juga disebut akan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran hingga memasuki malam ke-13 berturut-turut pada Jumat dini hari.
Sebelumnya, pada Rabu, 22 Juli 2026, otoritas Iran melaporkan korban tewas akibat serangan AS yang masih berlangsung mencapai 53 orang, sementara 592 orang lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Iran Nilai AS Jadikan Isu Nuklir sebagai Alasan untuk Menghancurkan Negaranya
Situasi di kawasan semakin memanas sejak Presiden Trump pada 8 Juli 2026 mengumumkan bahwa gencatan senjata yang tercantum dalam MoU Islamabad antara AS dan Iran sudah tidak lagi berlaku.
Sejak pengumuman tersebut, kedua negara terus saling melancarkan serangan. Amerika Serikat menggempur sejumlah titik di wilayah Iran, sedangkan Iran mengklaim telah menyerang fasilitas serta peralatan militer milik AS yang berada di beberapa negara di kawasan.
Konflik itu turut mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, mengancam stabilitas pasokan energi dunia, dan menyebabkan penutupan wilayah udara secara berkala.
Selain itu, ancaman serangan terhadap fasilitas maupun kepentingan Amerika Serikat di luar kawasan Timur Tengah juga dilaporkan terus meningkat.
(Sumber: Antara)
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi (kiri) saat bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran, Iran, pada Kamis, 23 Juli 2026. (Antara)