Ntvnews.id, Jakarta -Menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan semakin meluas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan berbagai teknologi hasil riset untuk memperkuat ketahanan air nasional. Inovasi tersebut dihadirkan sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan air bersih di tengah meningkatnya risiko kekeringan yang kini telah melanda sebagian besar wilayah Indonesia.
Melalui infografik ini, BRIN menampilkan beragam teknologi yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan di lapangan. Mulai dari desalinasi air laut untuk mengubah air laut menjadi air minum, teknologi modifikasi cuaca guna menambah cadangan air di waduk dan danau, teknologi nuklir untuk mendeteksi sumber air tanah, hingga pengolahan air limbah domestik dan teknologi air siap minum (Arsinum) yang mampu mengolah air keruh menjadi air layak konsumsi. Seluruh inovasi tersebut dirancang untuk mendukung ketersediaan air bersih, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun aktivitas masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan wilayah terdampak diperkirakan terus bertambah. Karena itu, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan air sekaligus mengurangi dampak kekeringan di berbagai daerah.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan riset, tetapi juga dirancang agar dapat diterapkan secara nyata di masyarakat. "Teknologi yang dihadirkan BRIN memadukan keunggulan sains dasar dengan aplikasi praktis untuk memastikan setiap tetes air, baik dari awan, celah bebatuan, maupun samudera dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat." Melalui pengembangan teknologi ini, BRIN berharap upaya menghadapi tantangan krisis air dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
infografik: teknologi ketahanan air hadapi kekurangan (Antara)
(Sumber: Antara)
infografik: teknologi ketahanan air hadapi kekurangan (Antara)