Iran Kaji Serangan ke Aset Militer AS di Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Agu 2026, 10:05
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Iran tengah mengkaji kemungkinan menyerang aset militer Amerika Serikat (AS) di Eropa jika Presiden Donald Trump meningkatkan eskalasi perang, menurut laporan Financial Times pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Mengutip dua sumber yang dekat dengan pemerintah Iran, laporan tersebut menyebut pasukan Iran telah mempertimbangkan serangan terhadap aset AS di sejumlah negara Eropa tenggara, termasuk Bulgaria. Negara tersebut sebelumnya menyetujui penggunaan Pangkalan Udara Bezmer untuk pesawat pengisian bahan bakar milik AS.

Siprus juga disebut masuk dalam pertimbangan sebagai target potensial apabila AS kembali melancarkan serangan. Pangkalan udara Inggris di wilayah tersebut sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan pesawat nirawak pada Maret.

Selain itu, pasukan Iran disebut telah mengkaji kemungkinan menargetkan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz apabila terjadi eskalasi lebih lanjut.

Salah satu sumber mengatakan Teheran tengah menyiapkan sejumlah opsi untuk memperluas konflik apabila Trump merealisasikan ancaman sebelumnya untuk menyerang infrastruktur Iran.

Baca Juga: Teheran: Tekanan Militer dan Ekonomi AS Tak Akan Buat Iran Tunduk

"Jika AS bertindak terlalu jauh, Iran akan mempertahankan diri dengan cara apa pun, melampaui kawasan dan menyerang Eropa juga," kata sumber tersebut.

Laporan itu muncul ketika perundingan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih terhenti dan peluang dimulainya kembali perundingan antara Teheran dan Washington semakin kecil.

Trump pada Selasa mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun yang telah dijadwalkan dengan Teheran.

Para pejabat militer Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap pangkalan militer yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap wilayah Iran dapat dianggap sebagai target.

Laporan Financial Times juga mengutip pakar militer yang menyebut Iran memiliki rudal yang mampu menjangkau sejumlah wilayah di Eropa selatan dan tenggara. Namun, efektivitas dan akurasi rudal tersebut dapat menurun pada jarak yang lebih jauh.

Baca jugaIran Sebut Batas Waktu Negosiasi 60 Hari dengan AS Tak Lagi Relevan

Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas. Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh akibat saling tuduh mengenai pelanggaran dan kembali pecahnya permusuhan.

Upaya diplomatik setelah itu belum menghasilkan terobosan untuk membuka kembali Selat Hormuz maupun melanjutkan perundingan mengenai kesepakatan yang lebih luas.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close