Ntvnews.id, Taheran - Iran memperingatkan negara-negara lain agar tidak ikut ambil bagian dalam "perang ekonomi" yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Republik Islam. Teheran menegaskan negara mana pun yang bergabung dalam langkah tersebut akan dipandang sebagai musuh.
Peringatan itu disampaikan setelah Washington mengajak sejumlah negara sekutunya untuk mendukung strategi terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam mengisolasi perekonomian Iran. Langkah tersebut berlangsung ketika operasi militer AS terhadap Iran telah mendekati bulan keenam.
"Kami menyatakan kepada semua negara... jangan bergabung dalam perang ekonomi yang dikobarkan oleh Amerika Serikat," kata Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, dalam siaran televisi pemerintah Iran.
"Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh," tambahnya.
Dilansir dari AFP, Senin, 24 Agustus 2026, Rezai mengatakan negara-negara yang tidak bersedia "menjauhkan diri" dari Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi berupa tindakan Iran yang dapat "merugikan" kepentingan mereka.
Ia juga menyatakan Teheran masih memiliki sejumlah opsi dalam menghadapi Amerika Serikat. Rezai bahkan mengklaim bahwa "kami belum menyerang kepentingan ekonomi Amerika mana pun".
Baca Juga: Rapat di Hambalang, Prabowo Evaluasi Penanganan Karhutla Kalimantan dan Pemulihan Pascagempa NTT
"Sejauh ini, kami hanya menargetkan pangkalan militer, tapi jika mereka ingin menjatuhkan sanksi ekonomi kepada kami, Amerika Serikat memiliki perusahaan minyak dan ekonomi di sekitar Iran maupun di tempat lain, dan kami akan menyerang perusahaan-perusahaan tersebut," kata Rezai.
Rezai kemudian memperingatkan Trump bahwa apabila Presiden AS tersebut "mengambil tindakan, konfrontasi kami akan bagaikan gempa bumi."
Sebelumnya, Washington telah meminta berbagai negara untuk mendukung upayanya mengisolasi ekonomi Iran. Salah satu negara yang menjadi perhatian utama adalah China, mengingat Beijing merupakan salah satu mitra strategis penting bagi Teheran.
China menolak inisiatif tersebut dan menilai sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat tidak akan menjadi solusi untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA), yang juga merupakan salah satu mitra dagang penting Iran, pada Selasa, 18 Agustus 2026, mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran hingga ada pemberitahuan selanjutnya.
Ilustrasi - Bendera Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)