Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunggah sebuah video hasil buatan kecerdasan artifisial (AI) yang menampilkan gambaran kehancuran Pulau Kharg, lokasi strategis yang menjadi pusat industri sekaligus ekspor minyak Iran.
Video tersebut dibagikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu, 30 Agustus 2026. Dalam unggahannya, Trump menuliskan, “Pulau Kharg dihancurkan berkeping-keping!!! Presiden DJT," seperti dikutip dari Anadolu, Selasa, 1 September 2026.
Unggahan itu muncul setelah militer AS melancarkan serangan terhadap dua peluncur Iran yang berada di Pulau Larak pada Minggu.
Seorang pejabat AS kepada Axios menyebut serangan tersebut sebagai aksi militer pertama Washington yang menyasar wilayah Iran sejak akhir Juli.
Serangan tersebut diarahkan ke sistem yang diduga sedang dipersiapkan untuk meluncurkan roket pembawa ranjau laut menuju Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan sejumlah anggota militer dan warga sipil menjadi korban tewas maupun terluka dalam serangan itu. Teheran juga berjanji akan memberikan respons.
Baca Juga: Trump Usulkan Biaya Visa hingga Rp1,8 Miliar untuk Pekerja Asing
Pulau Kharg sendiri memiliki posisi penting bagi sektor minyak Iran, terutama sebagai pusat kegiatan industri dan ekspor minyak. Berdasarkan data perusahaan pelacak kapal Kpler dan konsultan Energy Aspects, aktivitas di kawasan tersebut telah terhenti sejak 31 Juli.
Selama ini, Pulau Kharg menangani hampir 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Lokasinya memiliki perairan yang cukup dalam sehingga memungkinkan kapal tanker berukuran besar bersandar.
Hubungan antara Teheran dan Washington semakin memanas sejak perang pecah setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.
Kedua negara sebelumnya sempat mencapai kesepakatan kerangka melalui mediasi Pakistan dan Qatar pada Juni. Namun, situasi kembali memburuk setelah AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada pertengahan Juli, menyusul gagalnya kesepakatan sementara untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan). (Antara)