Ntvnews.id, AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa militer AS tidak menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan ke Iran jika situasi dinilai memerlukan tindakan lanjutan.
“Para pemimpin mereka (Iran) sebagian besar sudah tewas. Angkatan Laut mereka sudah tidak ada. Angkatan Udara mereka sudah tidak ada. Peralatan pengawasan mereka hampir seluruhnya sudah hancur. Itu bukan berarti kami tidak akan menghantam mereka. Kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump kepada media pada Selasa, 1 September 2026.
Pernyataan tersebut mengemuka seiring laporan Axios pada hari yang sama, yang menyebutkan bahwa Trump tengah mempertimbangkan skenario serangan terbatas. Langkah ini ditujukan untuk mencegah Teheran memulihkan kemampuan militernya, sekaligus menekan risiko ancaman terhadap kapal tanker minyak serta aset Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS di kawasan strategis tersebut.
Eskalasi di lapangan sendiri terus menunjukkan dinamika tinggi. Pada Minggu, serangkaian ledakan terdengar di Pulau Larak, Iran, yang berlokasi di Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Axios, pihak AS telah melancarkan serangan yang diduga mengincar fasilitas peluncur rudal milik Iran di pulau tersebut.
Meretas respons atas insiden itu, media Iran melaporkan bahwa pihak Teheran melepaskan tembakan rudal ke arah armada kapal AS di Selat Hormuz serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan sekitar. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa tindakan serangan yang dilancarkan pihaknya ke Iran bertujuan untuk mencegah pasukan negara tersebut menanam ranjau di jalur pelayaran Selat Hormuz.
Ketegangan antara kedua belah pihak ini merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah sejak awal tahun. Pada 28 Februari 2026, AS bersama Israel mulai menggempur sejumlah target di wilayah Iran, yang langsung dibalas oleh Teheran dengan menyerang sasaran milik AS.
Meski sempat menyepakati nota kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni 2026, gencatan tersebut tak bertahan lama karena kedua negara kembali terlibat aksi saling serang. Hingga kini, walau tidak ada pertempuran aktif yang berlangsung, konflik kedua negara belum menemukan titik terang. Washington pun memilih memperketat tekanan ekonomi guna memperberat beban finansial bagi Teheran.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Komando Pusat AS (CENTCOM) memulai Operasi Epic Fury, atas arahan Presiden Amerika Serikat, di Tampa, Florida, Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 (Antara)