Apresiasi Wapres Gibran, Aktivis Dorong Langkah Konkret untuk Habitat Satwa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Sep 2026, 09:37
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menggandeng seekor orangutan saat meninjau pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menggandeng seekor orangutan saat meninjau pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah.

Ntvnews.id, Jakarta -CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mengapresiasi perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap kondisi satwa liar saat melakukan kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah.

Dalam kunjungan tersebut, Wapres melihat secara langsung kondisi orangutan di tengah dampak asap kebakaran hutan dan lahan.

Jamartin mengatakan BOSF membawa Wapres melihat orangutan yang tengah menjalani perawatan, termasuk satwa yang membutuhkan nebulizer akibat gangguan pernapasan.

“Dari apa yang beliau lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” kata Jamartin.

Menurutnya, kunjungan langsung penting karena pemerintah dapat melihat sendiri bagaimana karhutla memberikan dampak tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kehidupan satwa di dalam hutan.

BOSF, kata Jamartin, menjelaskan kepada Wapres bahwa orangutan dapat menjadi simbol dari persoalan yang lebih luas.

Baca JugaIUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak, Langkah Strategis Lindungi Satwa Terancam Punah

“Kalau orangutan terdampak, bayangkan satwa liar lain di hutan yang juga terdampak. Ini harus menjadi perhatian Presiden dan Wakil Presiden,” katanya.

Meski memberikan penilaian positif terhadap perhatian tersebut, Jamartin mengatakan tindak lanjut konkret masih perlu dilihat.

“Apakah ada langkah konkret, ya kita lihat sama-sama. Tapi saya pikir, dengan pemerintah memberi perhatian terhadap satwa, kami berharap ke depan langkah-langkah konkret yang bisa kita lakukan bersama semakin jelas,” ujarnya.

Salah satu hal yang didorong BOSF adalah perlindungan terhadap kawasan hutan yang masih menjadi habitat orangutan dan satwa liar lain.
Jamartin meminta kawasan tersebut tidak mudah dikonversi menjadi pertambangan, perkebunan, atau penggunaan lain.

Ia juga menyoroti kawasan yang secara fisik masih berhutan, tetapi dalam peta tata ruang dapat dialihfungsikan. Menurutnya, kawasan semacam itu perlu diperiksa secara lebih rinci apabila masih menjadi habitat satwa.

“Kalau itu masih menjadi tempat tinggal orangutan, janganlah dikonversi. Walaupun secara umum bisa dikonversi. Ini harus dicek secara mikro dalam peta,” katanya.

Baca Juga: Jamin Perawatan Pasien Keracunan di Karo, Wapres Gibran Bawa Dokter Pribadi dan Buka Opsi Rujukan

Di luar perlindungan habitat, Jamartin juga mendorong penguatan sistem pencegahan karhutla.

Ia menilai pemerintah dan berbagai pihak selama ini masih kerap bergerak setelah kebakaran terjadi, padahal upaya pencegahan jauh lebih murah dan efektif.

Karena itu, early warning system, kesiapan anggaran kebencanaan, serta langkah pencegahan berdasarkan indikator cuaca perlu diperkuat.

Jamartin menilai perhatian pemerintah terhadap lingkungan saat ini sudah menunjukkan perkembangan.

“Yang ada sekarang, menurut kami, sudah lebih baik dari sebelumnya, tetapi harus ditingkatkan,” ujarnya.

Ia berharap momentum perhatian pemerintah terhadap satwa tidak berhenti pada saat karhutla, tetapi berlanjut dalam kebijakan perlindungan habitat dan pencegahan kebakaran yang lebih konsisten.

Baca Juga: Orang Utan Sempurna Mati, Diduga Terdampak Paparan Asap Karhutla

x|close