Trump Sesumbar Sebut Bisa Kuasai Minyak Iran seperti Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Sep 2026, 10:31
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait sumber daya minyak Iran. Trump mengklaim Washington memiliki opsi untuk tetap berada di Iran dan menguasai minyak negara tersebut, seperti yang disebutnya terjadi dalam kesepakatan AS dengan Venezuela.

AS diketahui terlibat perang dengan Iran sejak 28 Februari. Konflik tersebut bermula setelah serangan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran kemudian merespons dengan menyerang sejumlah fasilitas militer AS yang berada di negara-negara kawasan. Teheran juga menutup Selat Hormuz sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia.

Pertempuran sempat mereda setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan melalui mediasi Pakistan. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah kedua negara saling menuding melakukan pelanggaran. Trump kemudian menyatakan kesepakatan damai tersebut telah berakhir.

Iran hingga kini masih memberlakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz. Kondisi itu turut membuat harga minyak global kembali bergejolak.

Dalam perkembangan terbaru, Trump menyebut AS memiliki kemungkinan untuk tetap berada di Iran dan menguasai minyaknya. Ia membandingkan opsi tersebut dengan langkah Washington dalam memperoleh kendali atas sebagian produksi minyak Venezuela.

Baca Juga: Trump dan Elon Musk Gelontorkan Dana Besar untuk Selamatkan Republik di Pemilu Sela

Dilansir dari Reuters, Selasa, 15 September 2026, Trump menyampaikan pernyataan tersebut saat berada di Irlandia pada Minggu, 13 September 2026. Dia menegaskan hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap menguntungkan bagi AS dan menolak perjanjian yang dinilainya buruk.

Trump juga kembali mengklaim bahwa Iran "terus-menerus menghubungi" Washington untuk membahas perundingan damai. Namun, pernyataan tersebut sebelumnya telah dibantah oleh pemerintah Iran.

Selain mengakhiri konflik, Trump membuka kemungkinan bagi AS untuk tetap terlibat di Iran. Dia kembali membandingkan opsi tersebut dengan kesepakatan yang disebut telah dicapai Washington dengan Venezuela pada Agustus lalu.

"Pada akhirnya kita akan keluar (dari Iran), kecuali jika kita memutuskan untuk tetap bertahan dan menguasai minyaknya seperti di Venezuela," ucap Trump sambil menambahkan bahwa pendapatan AS dari minyak Venezuela 'telah membiayai perang berkali-kali lipat'.

Trump juga berharap konflik dengan Iran dapat berakhir pada tahun ini atau tidak lama setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung November mendatang. Menurutnya, berakhirnya perang akan membuat harga bahan bakar turun tajam.

Pernyataan tersebut bukan kali pertama Trump menyebut kemungkinan perang dengan Iran berakhir setelah pemilu sela. Sebelumnya, dia mengatakan konflik akan berakhir setelah pemilu November, tetapi kemudian membuka kemungkinan perang selesai lebih cepat.

Sementara itu, dilansir The Hill, pemerintahan Trump disebut telah mencapai kesepakatan dengan Venezuela agar AS membeli 20 persen minyak dari North American Blue Energy Partners, perusahaan swasta yang disebut sebagai produsen minyak terbesar kedua di Venezuela. Minyak tersebut dibeli dengan harga sesuai biaya produksinya dan dapat digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS.

Cadangan tersebut sebelumnya telah digunakan pemerintahan Trump maupun mantan Presiden AS Joe Biden untuk membantu meredam lonjakan harga bahan bakar yang terjadi akibat perang Iran dan invasi Rusia ke Ukraina.

Sikap Venezuela soal Minyak

Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. <b>(Antara)</b> Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Trump diketahui melancarkan operasi militer yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu. Sejak saat itu, para pejabat Venezuela berada dalam tekanan dari pemerintah AS.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan negaranya tetap mempertahankan kedaulatan meski terdapat kesepakatan minyak dengan Washington.

Dilansir Al Jazeera, Rodriguez menyebut kesepakatan bersejarah dengan AS terkait pengelolaan 65 miliar barel minyak Venezuela akan berlangsung selama 25 tahun. Kesepakatan tersebut disebut memungkinkan Venezuela mengembangkan kembali industri minyaknya sembari mempertahankan kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alam.

Proyek tersebut menargetkan pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan kapasitas produksi awal mencapai 1,5 juta barel per hari. Rencana yang lebih besar juga mencakup pengembangan delapan blok minyak baru untuk memperluas sektor energi Venezuela.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Caracas akan menerima USD 19 dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual ke AS. Nilai penerimaan Venezuela dari skema tersebut diperkirakan dapat mencapai USD 209 miliar per tahun, tergantung harga minyak dunia.

Rodriguez menegaskan Venezuela tetap memiliki sumber daya alamnya. Menurut dia, modal, teknologi, dan keahlian operasional akan dimanfaatkan untuk memulihkan industri strategis yang selama ini terdampak sanksi.

x|close