Ntvnews.id, Riyadh - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan dua kali menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membahas situasi konflik dengan kelompok Houthi di Yaman. Dalam salah satu percakapan, MBS bahkan meminta Washington melakukan serangan terhadap Houthi, tetapi permintaan tersebut ditolak Trump.
Dilansir dari Axios, Selasa, 15 September 2026, MBS awalnya menelepon Trump untuk menyampaikan perkembangan terbaru mengenai kondisi militer di Yaman. Saat itu, pasukan Houthi disebut tengah bergerak menuju kota pesisir Mokha.
Beberapa jam setelah percakapan pertama, MBS kembali menghubungi Trump. Dalam komunikasi kedua tersebut, Putra Mahkota Arab Saudi meminta Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Houthi.
Meski menolak terlibat langsung dalam serangan, Washington tetap memberikan dukungan kepada Riyadh. Pejabat AS yang dikutip Axios mengatakan pemerintah AS akan membagikan informasi intelijen dan data penargetan mengenai Houthi kepada Arab Saudi.
Selain itu, lebih dari 200 personel militer AS ditempatkan di Arab Saudi untuk memberikan dukungan non-kinetik.
Sementara itu, Riyadh pada Juli 2026 sempat menyatakan memiliki kemampuan untuk menghadapi Houthi sendiri meskipun eskalasi konflik terus meningkat.
Baca Juga: Houthi Serang Arab Saudi Sebabkan Masjid Rusak
Dua hari setelah laporan mengenai permintaan MBS kepada Trump mencuat, Presiden AS tersebut mengungkapkan bahwa kelompok Houthi juga telah menghubungi Washington.
Trump menyebut Houthi tidak menginginkan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
"Kelompok Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang melawan kami," ujar Trump kepada para wartawan saat berkunjung ke Dublin, Irlandia, Sabtu, 12 September 2026.
"Mereka tidak ingin kami menyerang mereka," tambahnya, dikutip dari AFP.
Trump juga menyatakan optimistis terhadap perkembangan situasi di kawasan tersebut. Menurutnya, kondisi akan berjalan dengan baik.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengungkapkan bahwa dirinya baru saja berbicara dengan MBS. Ia menyebut Putra Mahkota Arab Saudi itu sebagai seorang teman.
Houthi Kuasai Wilayah Strategis
Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa (Antara)
Pernyataan Trump disampaikan ketika situasi keamanan di Yaman dan sekitar Selat Bab El Mandeb semakin memanas. Houthi yang didukung Iran dan telah menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman selama bertahun-tahun, pekan lalu melancarkan serangan besar terhadap pasukan pemerintah yang mendapat dukungan Arab Saudi.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan ratusan orang. Arab Saudi kemudian merespons dengan melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi.
Media yang berafiliasi dengan Houthi pada Jumat (11/9/2026) melaporkan dua serangan menghantam bandara. Dalam periode 24 jam pada Minggu (13/9/2026), kelompok tersebut juga mengklaim terjadi 58 serangan udara.
Situasi semakin serius setelah Houthi merebut sebuah pulau strategis di Laut Merah yang berada di tengah Selat Bab El Mandeb. Kelompok tersebut juga disebut telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman setelah merebut tiga pulau penting melalui serangan cepat.
Penguasaan wilayah tersebut memperkuat posisi Houthi di Selat Bab El Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Eropa dan Asia. Jalur tersebut juga memiliki arti strategis bagi ekspor minyak Arab Saudi.
Tak hanya mengincar jalur pelayaran, Houthi pada pekan ini juga menyerang fasilitas minyak Arab Saudi menggunakan drone dan rudal dalam serangan berskala besar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi Arab Saudi sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Wilayah Bab El Mandeb semakin penting bagi Riyadh setelah blokade Iran di Selat Hormuz mengganggu pengiriman minyak melalui kawasan Teluk.
Konflik Yaman kini menjadi salah satu titik panas dalam rangkaian konflik Timur Tengah yang semakin meluas setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut turut mendorong Iran melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia.
Ketegangan di kawasan tersebut turut berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah Brent North Sea sebagai patokan internasional dan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sama-sama menembus lebih dari 100 dolar AS per barel pada 11 September.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Kepala Komando Pusat AS (Centcom) Brad Cooper juga bertolak ke Arab Saudi untuk melakukan pertemuan koordinasi mendesak.
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)