Thailand Bangun Tembok Beton di Perbatasan Kamboja

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Sep 2026, 10:51
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Prey Chan, Banteay Meanchey, Kamboja, Jumat, 29 Agustus 2025. Meski gencatan senjata masih diberlakukan, penjagaan ketat kawasan perbatasan tetap dilakukan Tentara Kerajaan Kamboja akibat konflik perbatas Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Prey Chan, Banteay Meanchey, Kamboja, Jumat, 29 Agustus 2025. Meski gencatan senjata masih diberlakukan, penjagaan ketat kawasan perbatasan tetap dilakukan Tentara Kerajaan Kamboja akibat konflik perbatas (Antara)

Ntvnews.id, Bangkok - Militer Thailand mulai mendirikan tembok beton sepanjang 8,4 kilometer di Provinsi Chanthaburi, wilayah timur negara tersebut yang berbatasan langsung dengan Kamboja. Pembangunan pembatas fisik ini dilakukan setelah bentrokan berdarah antara kedua negara pada tahun lalu.

Komandan Satuan Tugas Marinir Angkatan Laut Kerajaan Thailand di Chanthaburi, Kapten Prachya Hantiem, mengatakan tembok tersebut dibangun untuk memperketat pengamanan perbatasan sekaligus mencegah berbagai aktivitas ilegal, termasuk penyelundupan manusia dan barang.

"Kami membangun pagar ini untuk mencegah kegiatan ilegal," ujar Prachya, dikutip dari AFP, Selasa, 15 September 2026.

Prachya menjelaskan, tembok setinggi 3,6 meter itu menggunakan material beton bertulang, jaring baja galvanis, dan kawat berduri. Pembangunan tahap awal sepanjang satu kilometer telah rampung di area pertanian.

Dia memastikan pembangunan proyek tersebut tidak melewati garis wilayah Thailand dan tidak melanggar kedaulatan Kamboja.

"Struktur ini sepenuhnya berada di dalam kedaulatan Thailand 100 persen. Setiap langkah mematuhi hukum dan dapat diperiksa. Bahkan, pasukan Kamboja memeriksa pekerjaan kami di setiap tahapnya," papar Prachya.

Baca Juga: Turis Inggris Tewas Usai Jalani Prosedur Pembesaran Alat Kelamin di Thailand

Tembok tersebut membentang melewati sebuah desa kecil yang dihuni kurang dari 200 orang. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari perkebunan jagung, durian, dan kelengkeng.

Meski pembangunan pembatas mengambil sebagian lahan milik warga, masyarakat setempat pada umumnya menyambut positif keberadaan tembok tersebut. Kepala desa, Itchira Aranchaiyasiri, menilai pagar itu memberikan rasa aman bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar perbatasan.

"Ini memberi kami rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, karena perkebunan kami berada di sepanjang perbatasan," tutur Itchira.

Menurut Itchira, pembangunan tembok memang membuat hubungan dan akses antarwarga di kedua sisi perbatasan tidak lagi sebebas sebelumnya. Namun, kondisi keamanan membuat masyarakat harus beradaptasi.

"Dulu, kami biasa keluar masuk dengan bebas, atau saling mengunjungi dengan cukup mudah. Kami tidak pernah benar-benar tahu kapan Thailand dan Kamboja akan berdamai, atau kapan kami bisa berkomunikasi satu sama lain dengan baik. Namun, keberadaan pagar ini membantu. Kita harus beradaptasi," tambahnya.

Pemilik toko setempat, Suwin Muangmeung (62), juga menyatakan dukungannya terhadap pembangunan tersebut. Dia mengaku tidak keberatan jika sebagian tanahnya digunakan demi meningkatkan keamanan di wilayah perbatasan.

"Kami menerimanya, kami menerima kehilangan sebagian tanah demi mendapatkan keamanan," kata Suwin.

Suwin yang masih mengingat gelombang pengungsi setelah runtuhnya rezim Khmer Merah pada 1979 mengatakan, konflik terbaru kembali meninggalkan trauma bagi masyarakat.

"Perasaan saya mengenai pertempuran berbeda ketika saya masih muda. Saya tidak merasakan sesuatu yang serius. Namun, ketika saya melihat kerugian dari pertempuran terbaru ini, hati saya sakit," ungkapnya.

Ilustrasi - Bendera Thailand di kota Bangkok. ANTARA/Pixabay/pri. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Thailand di kota Bangkok. ANTARA/Pixabay/pri. (Antara)

Suwin juga menyiapkan bunker di rumahnya setelah mendapat imbauan dari aparat militer yang kerap berbelanja di tokonya untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Mereka memberi tahu saya untuk berhati-hati," ucap Suwin.

Perselisihan mengenai garis perbatasan Thailand-Kamboja yang membentang sekitar 800 kilometer telah berlangsung selama puluhan tahun. Penentuan sebagian besar wilayah perbatasan tersebut mengacu pada hasil perundingan antara Thailand, yang saat itu masih bernama Siam, dan Perancis yang menguasai Kamboja sejak 1863 hingga pertengahan 1950-an.

Pada tembok baru itu, gerbang dirancang agar tidak menutupi batu penanda perbatasan peninggalan era kolonial Perancis. Batu tersebut memiliki ukiran kata "Siam" dan "frontiere", istilah dalam bahasa Perancis yang berarti perbatasan.

Ketegangan kedua negara kembali memuncak setelah bentrokan terjadi pada Juli dan Desember tahun lalu. Konflik tersebut menyebabkan sekitar 500.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Thailand dan Kamboja kemudian menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada akhir Desember. Namun, kedua pihak hingga kini masih saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.

Sementara itu, sekitar 20.000 warga Kamboja dilaporkan masih berada di pengungsian.

x|close