BRIN Ungkap Kondisi Anak Krakatau Saat Ini Masih dalam Tahap Inkubasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Sep 2026, 11:31
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Gunung Anak Krakatau dipastikan masih berada dalam fase inkubasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi letusan dahsyat pembentuk kaldera (caldera-forming eruption) pada gunung api aktif di Selat Sunda tersebut diprediksi masih sangat jauh.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama, mengonfirmasi kabar tersebut saat memaparkan hasil studi kebencanaan secara daring di Jakarta, Senin (14/9).

"Pada (Gunung) Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption," kata Aditya.

Secara historis, sistem gunung api di Selat Sunda ini tercatat telah melewati tiga rentang periode utama: Krakatau tua, Krakatau muda, hingga akhirnya kemunculan Anak Krakatau secara perlahan usai letusan legendaris pada 1883. Letusan katastropik yang mampu membentuk kaldera biasanya harus melalui serangkaian tahapan panjang, berawal dari proses inkubasi, maturasi atau pematangan, fermentasi, hingga mencapai puncaknya pada erupsi skala besar.
 

Studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontiers in Earth Science mengungkap bahwa dapur magma Anak Krakatau saat ini terdeteksi berada di rentang kedalaman 7,4 hingga 26,6 kilometer.

Temuan tersebut menunjukkan kontras yang tajam jika dibandingkan dengan karakteristik Krakatau tua dan Krakatau muda. Sebelum kehancurannya, kedua pendahulu gunung tersebut terbukti mengantongi kantong magma berukuran masif di kedalaman yang sangat dangkal.

"Jadi paling tidak sudah ada dua siklus pembentukan kaldera begitu ya di abad ke-5, abad ke-4, abad ke-6, dan 1883," ucap Aditya memberikan konteks sejarah letusan besar.

Keunggulan riset ini juga diperkuat melalui pengujian petrografi serta geokimia terhadap belasan sampel batuan di lapangan. Tim peneliti menemukan adanya evolusi karakteristik magma pada Anak Krakatau yang membedakannya secara signifikan dari periode erupsi masa lalu. Kehadiran mineral olivin dalam sampel batuan menjadi bukti kuat adanya perbedaan struktur kimia yang mendasar pada dapur magma saat ini.

Meskipun peluang letusan besar tetap terbuka seiring berjalannya waktu geologi, proses pematangan magma yang memerlukan durasi sangat lama ini memberikan ruang napas dan ruang antisipasi yang lega bagi masyarakat maupun pemerintah.
 

Pemahaman komprehensif mengenai dinamika dapur magma dan siklus gunung api polisiklik ini diharapkan mampu menjadi pijakan ilmiah yang solid bagi pemerintah dalam menyempurnakan langkah mitigasi bencana di masa depan.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close