Peran MRT Jakarta Wujudkan DKI Jadi Kota Global Berkelanjutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Sep 2026, 07:21
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Penumpang masuk ke MRT Jakarta, Jumat 20 Juni (Antara) Penumpang masuk ke MRT Jakarta, Jumat 20 Juni (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Jakarta, Ibu Kota Indonesia, selalu punya cara dan cerita memanggil orang-orang datang untuk mengadu nasib. Jakarta terus bergerak, gedung-gedung tumbuh menjulang, kawasan bisnis kian ramai, dan mobilitas warga tak pernah berhenti sejak pagi hingga malam. 

Tetapi, di balik denyut kehidupan DKI, sebutan untuk kota metropolitan tersebut, nyatanya menghadapi tantangan besar, yakni urbanisasi, kemacetan, keterbatasan lahan, hingga kebutuhan akan transportasi publik yang semakin terintegrasi.

Di tengah persoalan tersebut, PT MRT Jakarta (Perseroda) ada, yang bukan sekadar pengelola moda transportasi massal. Lebih jauh, MRT Jakarta memiliki peran strategis dalam membentuk wajah baru Ibu Kota melalui pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (KBT) atau Transit Oriented Development (TOD).

MRT Jakarta berupaya menghidupkan simpul-simpul ekonomi di DKI dengan konsep (TOD) Placemaking atau strategi penataan ruang di sekitar stasiun, jadi ruang publik aktif dan inklusif menggerakkan ekonomi.

"Dulu Blok M tidak ramai tapi hari ini sudah berubah dan siapa pun nyaman datang ke sana serta UMKM bertumbuh," kata Division Head Bussiness Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta, di Jakarta, Selasa, 15 September 2026. 

567 Ribu Warga Naik MRT Saat Tarif Rp1

MRT Jakarta <b>(Instagram @mrtjkt)</b> MRT Jakarta (Instagram @mrtjkt)

Perubahan wajah transportasi Jakarta juga berjalan beriringan dengan meningkatnya minat masyarakat menggunakan MRT.

Salah satu gambaran tingginya antusiasme tersebut terlihat ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan tarif Rp1 dalam rangka memperingati HUT ke-499 Jakarta pada 2026.

Selama tiga hari, yakni 22, 27, dan 28 Juni 2026, MRT Jakarta melayani 567.633 pelanggan. Rinciannya, sebanyak 202.861 pelanggan menggunakan MRT Jakarta pada 22 Juni. Kemudian 195.545 pelanggan tercatat pada 27 Juni dan 169.227 pelanggan pada 28 Juni 2026.

Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta (Perseroda), Mega Tarigan kala itu mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang memilih transportasi publik selama rangkaian perayaan HUT Jakarta.

Menurut Mega, jumlah tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap MRT Jakarta sebagai moda transportasi yang aman, nyaman, dan andal.

"Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, baik dari dalam maupun luar kota, yang telah memilih menggunakan transportasi publik untuk memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta. Bagi kami, antusiasme tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan MRT Jakarta serta moda transportasi publik lainnya sebagai pilihan mobilitas yang aman, nyaman, dan andal. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi MRT Jakarta untuk terus meningkatkan kualitas layanan serta memperkuat integrasi antarmoda guna menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin baik bagi seluruh pengguna," kata Mega, Rabu, 1 Juli 2026.

Sebagai BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI, MRT Jakarta juga terus memperkuat integrasi dengan berbagai moda transportasi lain. Menariknya lagi, selama periode tarif Rp1, perjalanan antara Stasiun Blok M BCA dan Stasiun Dukuh Atas BNI menjadi salah satu jalur yang paling banyak digunakan.

Kedua kawasan tersebut memiliki konektivitas kuat dengan berbagai moda transportasi umum. Keberadaan feeder, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, kegiatan komunitas, hingga beragam acara dan aktivitas gaya hidup ikut memperkuat daya tarik kawasan.

Jakarta Masuk 17 Besar Kota dengan Transportasi Publik Terbaik Dunia

Sejumlah pengguna moda transportasi MRT saat menunggu kedatangan kereta MRT di Jakarta <b>(Antara)</b> Sejumlah pengguna moda transportasi MRT saat menunggu kedatangan kereta MRT di Jakarta (Antara)

Transformasi transportasi Jakarta juga mulai mendapatkan perhatian di tingkat internasional. Pada 2025, Jakarta masuk peringkat ke-17 dari 50 kota dengan transportasi publik terbaik dunia berdasarkan survei internasional Time Out.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat itu mengatakan posisi tersebut menunjukkan perkembangan transportasi publik Jakarta mulai diperhitungkan dalam konteks global.

"Jakarta sekarang ini dari 50 kota, 18 ribu responden yang disurvei, kita berada di nomor 17. Di ASEAN, kita hanya kalah dari Singapura, lebih baik dari Kuala Lumpur, Manila, maupun Bangkok," kata Pramono saat ditemui di Senen, Jakarta Pusat, Senin, 8 September 2025.

Pramono lantas berharap, perkembangan baik tersebut dapat terus ditingkatkan.

"Mudah-mudahan dengan ini kita bisa lebih baik, bukan lagi ranking 17, tapi bisa lebih tinggi lagi," ujar Pramono.

Survei itu juga menyebut bus sebagai moda transportasi publik tersibuk di Jakarta, dengan tingkat kepuasan 79 persen.

Ekosistem transportasi Jakarta sendiri tidak hanya bertumpu pada satu moda. Transjakarta, Mikrotrans, MRT Jakarta, LRT Jakarta, hingga kereta komuter menjadi bagian dari jaringan mobilitas yang menghubungkan pusat Jakarta dengan kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

MRT Fatmawati-TMII Disiapkan Terintegrasi dengan LRT Jabodebek

MRT Jakarta <b>(Ist)</b> MRT Jakarta (Ist)

Jakarta terus menata cara masyarakatnya bergerak. Jaringan transportasi berbasis rel kian dikembangkan supaya perjalanan dari satu kawasan ke lokasi lainnya tidak lagi terputus oleh pergantian moda.

Salah satu proyek yang disiapkan adalah MRT Fatmawati–TMII. Jalur dirancang memperkuat konektivitas Jakarta Selatan hingga Jakarta Timur sekaligus menghubungkan MRT Jakarta dengan jaringan transportasi lainnya.

Rute tersebut direncanakan melewati 10 stasiun, yakni Fatmawati, Antasari, Ampera, Warung Jati, Tanjung Barat, Ranco, Jalan Raya Bogor, Tanah Merdeka, Kampung Rambutan, dan TMII.

Nantinya, jalur itu dirancang terintegrasi dengan MRT Fase 1 Lebak Bulus–Bundaran HI, LRT Jabodebek, KRL, dan TransJakarta.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, pembangunan fase empat akan dilakukan setelah pembangunan MRT lintas Timur-Barat fase tiga, khususnya rute Medan Satria-Tomang, memasuki tahap penyelesaian.

"Tentu itu akan dilakukan setelah konstruksi fase tiga yakni lintas timur-barat (east–west) rute Medan Satria-Tomang selesai. Fase ini targetnya mulai tahun depan,” ujar Tuhiyat dalam konferensi pers peresmian Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Rabu, 10 Desember 2025.

Pada 2026, MRT Jakarta memulai pengerjaan konstruksi lintas Timur–Barat dari Medan Satria, Bekasi, hingga Tomang dengan panjang sekitar 24,5 kilometer.

Stasiun Harmoni Diproyeksikan Jadi Simpul TOD Baru

Pramono melakukan groundbreaking pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni pada Selasa, 20 Januari 2026. <b>(NTVNews.id/Adiansyah)</b> Pramono melakukan groundbreaking pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni pada Selasa, 20 Januari 2026. (NTVNews.id/Adiansyah)

Perubahan wajah Jakarta juga terlihat dari pembangunan MRT fase 2A. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung melakukan groundbreaking pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni pada Selasa, 20 Januari 2026.

Harmoni diproyeksikan menjadi salah satu simpul mobilitas penting karena berada di kawasan pemerintahan, bisnis, dan kuliner. Pramono meyakini kawasan tersebut akan semakin strategis ketika pengembangan TOD selesai.

"Hampir 25 tahun saya cukup mengenal tempat ini. Saya meyakini, jika pada tahun 2029 TOD Harmoni telah selesai, kawasan ini akan menjadi TOD yang sangat strategis. Di sekitar area ini terdapat banyak kantor pemerintahan, seperti Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Sekretariat Kabinet, Kantor Staf Presiden, serta sejumlah kantor di sekitar Istana. Tentu stasiun ini akan dimanfaatkan secara optimal," katanya.

Stasiun Harmoni nantinya terhubung dengan Transjakarta. MRT fase 2A juga dirancang melanjutkan perjalanan dari Bundaran HI menuju Monas hingga Kota Tua. Jalur tersebut mencakup tujuh stasiun, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota Tua.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan Stasiun Harmoni memiliki panjang 252 meter, lebar 18 meter, dan kedalaman 17 meter.

Stasiun tersebut terdiri atas dua lantai, yaitu concourse dan platform, serta tujuh entrance. Tiga entrance di bagian tengah dirancang terintegrasi dengan halte Transjakarta.

Progres MRT Fase 2A Capai 59,7 Persen

Gibran dan Pramono Anung <b>(Pemprov DKI)</b> Gibran dan Pramono Anung (Pemprov DKI)

Perkembangan proyek MRT fase 2A terus berjalan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meninjau progres pembangunan MRT fase 2A di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Peninjauan tersebut juga dihadiri Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan jajaran direksi MRT Jakarta.

Saat itu, progres pembangunan MRT fase 2A telah mencapai 59,7 persen. Pemprov DKI Jakarta menargetkan commissioning dimulai pada pertengahan 2027 dan operasional hingga Harmoni paling lambat pada akhir 2027.

"Kalau dilihat secara keseluruhan progresnya sekarang ini sudah 59,7% dan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Dirut MRT beberapa waktu yang lalu, mulai 2027 pertengahan kita akan commissioning, kemudian operasi sampai dengan apa, Harmoni, itu akan dilakukan sampai akan dilakukan di akhir paling lama akhir 2027," kata Pramono.

Sementara itu, perpanjangan jalur hingga Kota Tua ditargetkan selesai pada akhir 2029. Jika seluruh tahapan rampung, jalur utama MRT Utara–Selatan sepanjang 22,2 kilometer akan tersambung sepenuhnya.

Stasiun Monas dan Thamrin Ditargetkan Beroperasi Akhir 2027

Pekerja melakukan uji coba perlintasan jalur kereta MRT Fase 2A CP 201 di kawasan Gambir, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.  <b>(Antara)</b> Pekerja melakukan uji coba perlintasan jalur kereta MRT Fase 2A CP 201 di kawasan Gambir, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026. (Antara)

Selain itu, PT MRT Jakarta juga menargetkan Stasiun Monas dan Stasiun Thamrin yang termasuk dalam paket konstruksi CP 201 Fase 2A mulai beroperasi penuh pada akhir 2027.

Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina menyebut progres fisik paket CP 201 yang menghubungkan Bundaran HI dengan kawasan Monas telah mencapai sekitar 92 hingga 93 persen.

"Untuk CP 201 ini kita sudah di angka 92 menuju 93 persen. Insya Allah selesaikan di akhir tahun 2027 dan sudah beroperasi di akhir 2027," kata Weni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Tahapan konstruksi telah memasuki pekerjaan interior, mekanikal dan elektrikal, arsitektur, serta finishing. Pembangunan MRT juga menghadapi tantangan teknis, salah satunya kondisi tanah yang relatif lunak. Rekayasa teknik digunakan untuk menjaga kestabilan struktur bawah tanah.

Di Jalan Medan Merdeka Barat, MRT Jakarta menggunakan metode box jacking untuk membangun terowongan menuju Jalan Museum Nasional. Metode ini memungkinkan pekerjaan konstruksi berlangsung dengan gangguan minimal terhadap arus kendaraan di permukaan.

Stasiun Monas juga dirancang menyesuaikan karakter kawasan cagar budaya.

Pintu masuk dibuat dengan konsep sunken entrance, sementara ventilasi dan cooling tower dirancang semi-sunken. Sistem drainase khusus dan flood gate disiapkan untuk mengurangi risiko genangan.

Stasiun tersebut nantinya memiliki Grand Entrance yang menghadap Monumen Nasional serta akses dari Jalan Museum Nasional.

Tidak berhenti sebagai tempat transit, Stasiun Monas juga dirancang memiliki koridor yang dapat digunakan sebagai ruang pameran edukasi dan seni serta pusat informasi wisatawan.

Pembayaran Nirsentuh Bawa MRT Jakarta ke Era Mobilitas Digital

Pramono Luncurkan Pembayaran Nirsentuh MRT Jakarta <b>(NTVNews.id/Pemprov DKI)</b> Pramono Luncurkan Pembayaran Nirsentuh MRT Jakarta (NTVNews.id/Pemprov DKI)

Transportasi modern bukan hanya tentang seberapa cepat kereta melaju. Kemudahan saat masuk stasiun pun menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.

Karena itu, MRT Jakarta meluncurkan sistem pembayaran tiket menggunakan kartu kredit nirsentuh atau EMV Contactless pada Rabu, 29 Juli 2026 di Stasiun Bundaran HI.

Sistem ini memungkinkan penumpang melakukan tap in dan tap out menggunakan kartu kredit berteknologi nirsentuh tanpa perlu membeli kartu perjalanan khusus atau mengisi saldo terlebih dahulu.

Gubernur Pramono saat itu menyebut, penerapan EMV Contactless sebagai bagian dari transformasi transportasi publik Jakarta menuju layanan yang lebih praktis dan berstandar internasional.

"Hari ini secara resmi sistem pembayaran tiket menggunakan kartu kredit nirsentuh atau EMV Contactless di MRT Jakarta diluncurkan. Ini merupakan yang pertama di Indonesia, sehingga masyarakat dapat langsung menggunakan kartu kredit seperti Visa dan Mastercard tanpa perlu membeli kartu khusus," katanya.

Sistem tersebut juga diarahkan untuk memberikan kemudahan bagi wisatawan mancanegara.

Pemprov DKI berharap pembayaran nirsentuh nantinya dapat diperluas ke LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga layanan LRT pemerintah pusat sehingga perpindahan antarmoda dapat menggunakan sistem pembayaran yang semakin terintegrasi.

MRT Timur-Barat Mulai Disiapkan dari Medan Satria hingga Tomang

MRT dan sejumlah kendaraan melintas di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2020). <b>(Antara)</b> MRT dan sejumlah kendaraan melintas di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2020). (Antara)

Setelah koridor Utara-Selatan terus diperpanjang, Jakarta juga menatap jaringan MRT Timur-Barat. PT MRT Jakarta menjalankan proses lelang sejumlah paket konstruksi untuk proyek yang menghubungkan Medan Satria, Bekasi, hingga Tomang, Jakarta Barat.

Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud mengatakan proses bidding dilakukan untuk sejumlah paket pekerjaan.

"Saat ini kita sedang membangun jalur Timur-Barat, Medan Satria-Tomang yang sekarang sedang dilakukan bidding untuk membangun beberapa paket pekerjaan," kata Farchad Mahfud dalam peresmian Stasiun MRT Blok A Visa Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. 

Pengembangan tersebut berjalan paralel dengan perpanjangan lintas Utara–Selatan menuju Kota. MRT Jakarta juga menyiapkan pembangunan depo di Jakarta bagian timur.

Dalam rencana jangka panjang, jaringan MRT Timur–Barat akan membentang jauh lebih panjang, dari Balaraja di sisi barat hingga Cikarang di sisi timur.

Jaringan tersebut direncanakan memiliki 48 stasiun dan tiga depo MRT Jakarta.

Sementara untuk lintas Timur–Barat, sejumlah stasiun yang direncanakan antara lain Kembangan, Batu Mulia, Teknologi, Kebon Jeruk, Tanjung Duren, Arjuna Selatan, Tomang, Grogol, Roxy, Petojo, Cideng, Thamrin, Kebon Sirih, Kwitang, Senen, Galur, Cempaka Baru, Sumur Batu, Pakulonan Barat, Pakulonan Timur, Perintis, Pulogadung, Penggilingan, Cakung Barat, Pulo Gebang, Ujung Menteng, dan Medan Satria.

Lintasan tersebut direncanakan mulai beroperasi pada 2031 dengan perkiraan jumlah penumpang mencapai 284.000 orang per hari.

Tujuh Developer Diajak Mengembangkan MRT Timur-Barat

MRT Jakarta. (Antara) MRT Jakarta. (Antara)

Pembangunan jaringan MRT tidak hanya membutuhkan konstruksi rel dan stasiun. Pembiayaan juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan proyek.

Untuk itu, MRT Jakarta menggandeng tujuh pengembang swasta dalam pengembangan MRT Fase 2 Timur–Barat yang menghubungkan Kembangan hingga Balaraja.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menyampaikan bahwa kerja sama tersebut akan diformalkan melalui nota kesepahaman.

"Akan dilakukan nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) dengan tujuh 'developer'," katanya di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.

MRT Jakarta juga mempertimbangkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha atau KPBU.

Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud mengatakan pengembangan jalur hingga Banten akan didorong melalui skema developer contribution.

"Persiapan 'signing' MOU MRT East-West Line Fase 2 yang di sisi Banten. Kita ingin mendorong pengembangan menggunakan 'developer contribution'. Tunggu saja tanggal mainnya nanti dari Pak Dirut (Tuhiyat), saya kira akan ada pengumuman dalam waktu dekat," ujarnya.

Rute Kembangan-Balaraja memiliki panjang sekitar 29,9 kilometer dan direncanakan melalui 14 stasiun, terdiri atas lima stasiun di Kota Tangerang dan sembilan stasiun di Kabupaten Tangerang.

Tahun Ini, MRT Timur–Barat Ditargetkan Groundbreaking

Pramono Anung <b>(Ntvnews.id/Adiansyah)</b> Pramono Anung (Ntvnews.id/Adiansyah)

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyebut proyek MRT lintas Timur-Barat ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada 2026. Ia berharap peletakan batu pertama dapat dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Hal tersebut disampaikan Pramono seusai peresmian operasional LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta pada Rabu, 16 September 2026.

"Untuk Jakarta Barat, kita akan kembangkan yang dari Barat ke Timur menggunakan MRT. Tahun ini, mudah-mudahan bisa di-groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto," katanya.

Pemprov DKI Jakarta juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai pembagian porsi pembiayaan pembangunan MRT Timur–Barat.

"Tadi kami sudah mendiskusikan juga dengan pemerintah pusat mengenai share, berapa yang perlu di-share atau dibagi antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Jakarta. Prinsipnya, melanjutkan apa yang sudah diatur di dalam MRT dari Utara ke Selatan," ungkapnya.

MRT Timur-Barat dirancang membentang dari kawasan Banten, DKI Jakarta, hingga Bekasi. Pada fase 1 tahap 1, jalur tersebut direncanakan menghubungkan Tomang, Jakarta Barat, dengan Medan Satria, Bekasi.

Proyek ini tercantum dalam daftar Proyek Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Dalam rencana jangka panjang, jaringan tersebut akan diperpanjang ke Balaraja di sisi barat dan Cikarang di sisi timur.

Maka, membangun Jakarta dan menuju kota global lalu bersaing dengan negara lain, rasanya bukan hanya tentang mendirikan gedung tinggi atau menghadirkan pusat bisnis kelas dunia belaka. Pun, kota global turut ditentukan oleh bagaimana warganya bergerak.

Di titik itulah MRT Jakarta memainkan perannya, lebih besar daripada sekadar sistem transportasi. MRT jadi bagian dari proses menata ruang, menghidupkan kawasan, membuka akses ekonomi, memperkuat konektivitas, dan membangun kebiasaan baru dalam bermobilitas masyarakatnya.

x|close