Trump Klaim Kim Jong-un Menyukainya, Singgung Program Nuklir Korut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Okt 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, 30 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) Arsip - Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, 30 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi kekhawatiran terkait program nuklir Korea Utara dengan menonjolkan kedekatan yang diklaimnya dengan pemimpin negara tersebut, Kim Jong-un.

Trump mendapat pertanyaan mengenai alasan Iran dilarang mengembangkan senjata nuklir, sementara Korea Utara telah memiliki senjata tersebut dan terus meningkatkan persenjataannya.

Menjawab pertanyaan itu, Trump menyalahkan mantan Presiden AS Joe Biden yang dinilai tidak melanjutkan penanganan persoalan Korea Utara. Trump juga mengklaim dirinya sebagai satu-satunya orang di dunia yang disukai Kim.

"Karena saat itu presidennya berbeda," ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis, 1 Oktober 2026.

"Mereka bisa saja menghentikannya. Dia kebetulan adalah teman saya. Kim Jong-Un, dia teman saya. Dia menyukai Trump,” imbuh Trump.

Trump juga menyebut Korea Utara mempunyai kemampuan nuklir dalam jumlah yang "cukup besar".

"Dia tidak menyukai banyak orang lain. Saya hampir menjadi satu-satunya orang di seluruh dunia yang dia sukai, dan saya menyukainya," kata presiden tersebut, merujuk pada Kim.

"Selama saya masih ada, dia akan baik-baik saja. Anda tahu mengapa? Karena dia menghormati saya dan menyukai saya,” imbuhnya.

"Saya mendapat banyak kecaman saat mengatakan hal itu. Orang-orang bilang itu keterlaluan,” menurut Trump.

Baca Juga: Putri Kim Jong Un Ditunjuk Jadi Penerus Tahta Ayahnya

Pernyataan Trump mengenai Kim disampaikan sehari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim Korea Utara tengah mempersiapkan tambahan 10.000 tentara untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina. Zelensky sebelumnya mengatakan Pyongyang telah mengirim 8.000 tentara untuk bertempur di pihak Rusia.

Rencana Trump untuk kembali menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Kim Jong-un juga bukan hal baru. Trump berulang kali menyatakan bahwa ia "akan" bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara itu sebelum akhir tahun, meskipun belum ada agenda resmi yang disiapkan.

Sejumlah media AS yang mengutip sumber anonim melaporkan bahwa Trump secara pribadi telah meminta stafnya mengupayakan pertemuan dengan Kim ketika dirinya melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk menghadiri pertemuan APEC pada akhir tahun ini.

Trump belakangan juga mengurangi skala latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield bersama Korea Selatan. Ia menyebut latihan selama 11 hari tersebut sebagai tindakan yang "tidak pantas dan bermusuhan" terhadap Korea Utara serta dianggap membebani anggaran AS. Kebijakan itu mengejutkan sejumlah sekutu Washington.

Pada periode pertama kepemimpinannya, Trump menjadi presiden AS yang masih menjabat pertama kali bertemu Kim pada 2018. Kedua pemimpin kemudian kembali melakukan pertemuan sebanyak dua kali sebelum proses diplomasi mereka menemui kegagalan pada 2019.

Sejak itu, Trump berulang kali membicarakan "surat-surat cinta" yang diklaim pernah diterimanya dari pemimpin Korea Utara tersebut.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea <b>(Antara)</b> Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea (Antara)

Dalam perkembangan berikutnya, Korea Utara membangun aliansi pertahanan strategis dengan Rusia. Melalui kerja sama tersebut, Pyongyang meningkatkan kemampuan persenjataan konvensional dan mendukung Vladimir Putin dalam perang melawan Ukraina dengan mengirim pasukan serta senjata. Hubungan Korea Utara dengan Tiongkok juga semakin erat.

Di tengah perkembangan tersebut, Korea Utara terus meningkatkan kapasitas militernya. Pyongyang telah melakukan enam kali uji coba bom nuklir dan menunjukkan kemampuan meluncurkan senjata nuklir menggunakan rudal jarak jauh.

Namun, langkah pendekatan yang dilakukan Trump tidak mendapatkan respons positif dari Pyongyang.

Setelah Trump mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan, Kim Yo-jong, saudara perempuan Kim Jong-un yang memiliki pengaruh besar, menyatakan bahwa jika Amerika Serikat menganggap kebijakan tersebut sebagai "semacam tindakan niat baik", mereka "tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan".

Kim Yo-jong juga membantah pernyataan Trump mengenai komunikasi yang disebut sedang berlangsung dengan Kim Jong-un. Ia mengatakan dirinya "sama sekali tidak mengetahui" adanya kontak tersebut. Meski demikian, Kim Yo-jong menyebut Kim Jong-un masih memiliki "kenangan dan perasaan pribadi yang hangat" terhadap Trump dan mengatakan hubungan kedua pemimpin itu tetap "sangat baik".

TERKINI

Load More
x|close