Krisis UGD Australia Memburuk, Pasien Lansia Bisa Menunggu hingga 48 Jam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Okt 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Canbera - Waktu tunggu pasien di unit gawat darurat (UGD) sejumlah rumah sakit di Australia semakin panjang. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan tenaga medis, terutama seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia yang membutuhkan layanan kesehatan.

Dilansir dari ABC News, Kamis, 15 Oktober 2026, Australasian College for Emergency Medicine (ACEM), organisasi profesi dokter gawat darurat di Australia dan Selandia Baru, menyoroti persoalan tersebut melalui laporan tahunan State of Emergency. Laporan itu mengkaji dampak penuaan populasi terhadap tekanan yang dihadapi sistem kesehatan Australia.

Data ACEM menunjukkan, pada 2023-2024, hanya 54 persen pasien lanjut usia yang datang ke UGD dapat memperoleh tempat tidur rawat inap dalam waktu delapan jam. Angka tersebut merosot dibandingkan periode 2018-2019, ketika proporsinya mencapai 75 persen.

ACEM memperingatkan bahwa kondisi tersebut mencerminkan tren yang mengkhawatirkan dan masih berlanjut hingga saat ini.

Pengalaman Elsie Gribben, seorang nenek asal Perth, menggambarkan persoalan tersebut. Pada Maret lalu, ia dilaporkan harus menunggu hampir 48 jam di lorong St John of God Midland Hospital. Putrinya, Susan Chapman, menceritakan pengalaman itu kepada ABC.

Baca Juga: Eks PM Malaysia Mahathir Dirawat di Rumah Sakit Usai Istri Wafat

"Ibu saya tidak bisa berjalan, dan pada waktu-waktu tertentu dibiarkan tanpa pengawasan di lorong. Ia hanya diberi tisu basah untuk membersihkan dirinya sendiri dan tidak bisa mengakses toilet," kata Susan.

"Itu sesuatu yang kita pikir cuma terjadi ketika ada perang dunia," ujarnya.

Susan mengaku telah mendatangi sejumlah rumah sakit setelah kejadian tersebut. Namun, menurutnya, kondisi pelayanan yang ia temui tidak menunjukkan perbaikan.

"Bukan hanya satu rumah sakit, tapi di semuanya. Para perawat yang saya ajak bicara hampir semuanya sudah muak dengan cara mereka diperlakukan," ujarnya.

Lonjakan pasien lansia membebani rumah sakit

ACEM menilai sebagian besar rumah sakit dan UGD di Australia belum memiliki kapasitas yang memadai untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan layanan kesehatan akibat penuaan penduduk.

Dalam periode 2023-2024, jumlah pasien lansia yang mengunjungi UGD meningkat 16 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Sementara itu, kenaikan jumlah pasien dari kelompok usia lebih muda tercatat sebesar empat persen.

Masalah juga terlihat dari meningkatnya jumlah pasien lanjut usia yang harus menunggu lebih dari 24 jam di UGD. Jumlahnya melonjak dari 15.084 orang pada periode sebelumnya menjadi 53.510 orang pada 2023-2024, atau meningkat sekitar 3,5 kali lipat.

Laporan tersebut turut mengutip proyeksi Biro Statistik Australia (ABS) yang memperkirakan jumlah kunjungan UGD oleh penduduk berusia 85 tahun ke atas akan meningkat 411 persen antara 2010 dan 2050.

Meski pasien berusia lebih muda juga menghadapi waktu tunggu yang semakin lama, ACEM menemukan bahwa proporsi pasien lansia yang menunggu lebih lama jauh lebih besar. Kesenjangan antara kedua kelompok usia tersebut pun terus melebar.

Perbandingan data 2018-2019 dan 2023-2024 menunjukkan jumlah pasien lansia yang menunggu lebih dari delapan jam meningkat di seluruh wilayah administratif Australia, kecuali Kawasan Ibu Kota Australia (ACT).

Presiden ACEM, Peter Allely, mengatakan tekanan pada layanan perawatan lansia turut memengaruhi kapasitas pelayanan di UGD.

"Layanan darurat akan datang terlambat bagi banyak warga Australia kecuali jika masalah serius ini ditangani segera," katanya.

Allely menilai meningkatnya usia harapan hidup merupakan salah satu bukti kemajuan dunia kedokteran. Namun, ia mengingatkan bahwa sistem kesehatan Australia belum cukup siap menghadapi perubahan demografi tersebut.

"Pada 2030, diproyeksikan hampir satu dari lima warga Australia akan berusia 65 tahun ke atas," katanya.

"Sistem kesehatan Australia dan tenaga kesehatannya belum dilengkapi untuk menghadapi perubahan demografi ini."

Pemerintah pusat dan negara bagian saling menyoroti tanggung jawab

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. <b>(Antara)</b> Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. (Antara)

Persoalan panjangnya waktu tunggu pasien turut memunculkan perbedaan pandangan di antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian mengenai pihak yang bertanggung jawab mengatasi krisis tersebut.

Menteri Kesehatan dan Lansia Australia, Mark Butler, mengatakan pemerintah negara bagian memiliki tanggung jawab dalam memperbaiki sistem layanan kesehatan di wilayah masing-masing.

"Australia kini berada di titik kritis, karena generasi baby boomer tertua mulai memasuki usia 80-an, kebutuhan mereka akan layanan perawatan lansia dan kesehatan yang berkualitas meningkat pesat," katanya.

"Dan itu tantangan bagi semua pemerintah, bukan hanya pemerintah pusat."

Butler menyatakan pemerintah pusat memprioritaskan peningkatan akses dan keterjangkauan layanan kesehatan. Ia juga mengeklaim pemerintah telah melakukan "investasi bersejarah untuk mengurangi tekanan pada rumah sakit negara bagian dan teritori."

Sebaliknya, Menteri Kesehatan New South Wales (NSW), Ryan Park, menilai pemerintah pusat perlu mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menangani tekanan pada sektor perawatan lansia.

"Melihat jumlah pasien yang menunggu ditempatkan di fasilitas perawatan lansia milik Pemerintah Pusat dan terjebak di rumah sakit umum merupakan salah satu krisis kesehatan masyarakat paling signifikan yang dihadapi sistem kesehatan negara bagian di seluruh Australia," katanya.

Menteri Kesehatan Australia Barat, Meredith Hammat, juga menyoroti banyaknya pasien lansia yang secara medis telah dinyatakan dapat meninggalkan rumah sakit, tetapi belum memperoleh tempat di fasilitas perawatan lansia.

"UGD kami penuh karena rumah sakit kami penuh, dan rumah sakit kami penuh karena kami tidak memiliki cukup pusat perawatan lansia … Itu tanggung jawab pemerintah pusat."

ACEM telah mengajukan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah pusat dan negara bagian untuk mengatasi persoalan tersebut. Usulan itu mencakup penguatan koordinasi antara rumah sakit dan fasilitas perawatan lansia, peningkatan pendanaan, perluasan akses terhadap dokter umum, serta pengembangan data dan penelitian.

Organisasi tersebut menilai langkah-langkah itu diperlukan agar sistem kesehatan Australia mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan layanan medis seiring bertambahnya populasi lanjut usia.

TERKINI

Load More
x|close