Ntvnews.id, Jakarta - Seorang anak muda Indonesia mungkin mengenal Korea Selatan pertama kali melalui lagu K-pop yang diputar berulang kali di telepon genggamnya. Ia kemudian mengikuti drama Korea, mencoba makanan khasnya, hingga menyimpan keinginan untuk mengunjungi Seoul. Di sisi lain, seorang wisatawan Korea Selatan bisa mengenal Indonesia melalui keindahan Bali, kuliner Nusantara, batik, atau kisah budaya yang ditemukannya di media sosial.
Pertemuan sederhana melalui musik, film, makanan, dan perjalanan itu menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak selalu dimulai dari meja diplomasi. Terkadang, ia tumbuh dari rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kedekatan.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami masa depan hubungan Indonesia dan Korea Selatan. Sejak menjalin hubungan diplomatik pada 1973, kedua negara telah mengembangkan kerja sama di berbagai bidang.
Momentum baru hadir ketika Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Republik Korea Lee Jae Myung menyepakati peningkatan hubungan dari Special Strategic Partnership menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership (SCSP) dalam kunjungan kenegaraan pada 31 Maret–1 April 2026. Peningkatan ini membuka ruang lebih luas bagi kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi dan politik, tetapi juga pada kedekatan sosial dan budaya kedua masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kebudayaan, ekonomi kreatif, dan pariwisata perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari kemitraan bilateral. Ketiganya bukan sekadar pelengkap diplomasi, melainkan sektor yang mampu mempertemukan identitas, kreativitas, lapangan kerja, dan peluang ekonomi. Tantangannya adalah memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk budaya Korea Selatan, tetapi juga menjadi mitra yang mampu menghasilkan karya, memperluas jangkauan budaya, dan menciptakan nilai ekonomi bersama.
Belajar dari Hallyu, Menguatkan Identitas Nusantara
Gelombang budaya Korea atau Hallyu memperlihatkan bagaimana musik, film, serial televisi, fesyen, dan kuliner dapat membangun daya tarik sebuah negara. Popularitas tersebut tidak berhenti pada konsumsi hiburan. Ia juga dapat mendorong minat terhadap bahasa, perjalanan wisata, produk gaya hidup, dan pengalaman budaya Korea Selatan.
Indonesia memiliki modal yang berbeda, tetapi tidak kalah beragam. Batik, wayang, musik tradisional, tari daerah, kuliner, film, animasi, gim, hingga cerita rakyat menyimpan potensi untuk menjangkau audiens internasional. Persoalannya bukan semata-mata kekurangan kekayaan budaya, melainkan bagaimana kekayaan tersebut dikemas menjadi karya yang relevan dengan masyarakat modern tanpa kehilangan akar identitasnya.
Karena itu, Indonesia tidak perlu meniru Korea Selatan secara utuh. Pelajaran penting dari Hallyu adalah perlunya ekosistem yang menghubungkan kreativitas, kualitas produksi, pengembangan talenta, distribusi, dan promosi lintas negara. Indonesia dapat membangun pendekatan serupa dengan karakter sendiri: berangkat dari keragaman budaya, diperkuat teknologi digital, dan didukung kolaborasi antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, serta industri.
Baca Juga: RI–Korea Selatan Sepakati Klarifikasi Travel Advisory yang Singgung Bali
Salah satu peluangnya ialah memperbanyak produksi bersama (co-production) film, serial, dokumenter, animasi, dan konten digital Indonesia–Korea Selatan. Kolaborasi ini sebaiknya tidak berhenti pada penggunaan modal atau teknologi, tetapi juga melibatkan penulis naskah, sutradara, aktor, animator, musisi, dan pekerja kreatif dari kedua negara. Dengan demikian, kerja sama menghasilkan pertukaran keterampilan sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi karya Indonesia.
Upaya tersebut memperoleh relevansi melalui pembahasan nota kesepahaman baru di bidang ekonomi kreatif pada Juni 2026. Kementerian Ekonomi Kreatif Indonesia dan pihak Korea Selatan juga membahas pembentukan High-Level Creative Industries Cooperation Committee. Kerangka ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong program yang terukur, mulai dari inkubasi kreator muda, pelatihan produksi, pertukaran tenaga ahli, hingga distribusi karya ke pasar masing-masing negara.
Diplomasi yang Menghidupkan Ekonomi Masyarakat
Keberhasilan kerja sama budaya semestinya tidak hanya diukur dari banyaknya konser, film yang diputar, atau festival yang diselenggarakan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana kegiatan tersebut meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Bayangkan sebuah festival Indonesia di Seoul. Pengunjung menikmati pertunjukan musik, mencicipi rendang, melihat kerajinan, dan mengenal batik. Di balik pengalaman itu terdapat perajin yang menyiapkan produknya, pelaku usaha kuliner yang mengembangkan resep, seniman yang berlatih, serta pekerja muda yang menangani promosi digital. Ketika produk mereka mendapatkan pembeli baru atau karya mereka memperoleh kesempatan tampil di luar negeri, diplomasi budaya berubah menjadi peluang ekonomi yang nyata.
Festival Indonesia 2026 di Yeouido Hangang Park, Seoul, yang dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno pada 4 Oktober 2026, memberikan gambaran mengenai pentingnya ruang perjumpaan tersebut. Seni, kuliner, dan kreativitas menjadi sarana memperkenalkan Indonesia sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat. Inisiatif semacam ini dapat dikembangkan lebih jauh melalui kemitraan kota, pertukaran komunitas, dan program promosi produk kreatif.
Namun, partisipasi pelaku usaha kecil tidak boleh berhenti pada kesempatan memamerkan produk. Mereka membutuhkan pendampingan untuk memenuhi standar pasar, memahami hak kekayaan intelektual, mengembangkan kemasan, mengelola transaksi digital, dan membangun jaringan distribusi. Tanpa dukungan tersebut, peluang internasional berisiko lebih banyak dinikmati perusahaan besar yang telah memiliki modal dan akses pasar.
Oleh sebab itu, pemerintah kedua negara perlu mendorong program kemitraan yang menghubungkan UMKM kreatif Indonesia dengan distributor, platform digital, pelaku industri, serta komunitas bisnis Korea Selatan. Perguruan tinggi juga dapat dilibatkan dalam riset pasar, desain produk, dan pengembangan strategi pemasaran. Dengan pendekatan ini, kerja sama bilateral tidak hanya memperbesar nilai perdagangan, tetapi juga memperluas kesempatan bagi pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah.
Pariwisata: Mengubah Ketertarikan Menjadi Perjalanan
Budaya juga dapat menjadi pintu masuk bagi pariwisata. Seseorang yang menyukai film atau musik dari negara lain bisa terdorong untuk mengunjungi tempat yang berkaitan dengan karya tersebut. Sebaliknya, pengalaman berwisata dapat memperdalam pemahaman terhadap sejarah, kebiasaan, dan kehidupan masyarakat setempat.
Indonesia memiliki peluang mengembangkan wisata berbasis pengalaman budaya, mulai dari kampung batik, desa kerajinan, wisata kuliner, pertunjukan seni, hingga perjalanan yang memperkenalkan tradisi masyarakat adat secara bertanggung jawab. Promosi destinasi kepada masyarakat Korea Selatan dapat dilakukan melalui konten digital berbahasa Korea, kolaborasi dengan kreator perjalanan, serta paket wisata yang menghubungkan atraksi budaya dengan pengalaman masyarakat lokal.
Akan tetapi, promosi tidak boleh hanya berpusat pada destinasi populer. Daerah yang memiliki kekayaan budaya perlu memperoleh kesempatan untuk masuk ke dalam jaringan pariwisata internasional. Pemerataan ini membutuhkan infrastruktur yang memadai, akses transportasi, informasi yang mudah dipahami, kebersihan, keamanan, dan kesiapan masyarakat menerima wisatawan.
Di saat yang sama, Indonesia perlu memperkuat pertukaran wisatawan dua arah. Wisatawan Korea Selatan yang datang ke Indonesia dapat menjadi penghubung budaya melalui pengalaman mereka, sementara wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan memperoleh kesempatan memahami masyarakatnya secara langsung. Interaksi semacam ini dapat mengurangi ketergantungan pada gambaran yang terbentuk hanya melalui media populer.
Pengembangan pariwisata juga harus memperhatikan keberlanjutan. Masyarakat lokal perlu menjadi penerima manfaat, bukan sekadar latar bagi promosi destinasi. Perlindungan warisan budaya, penghormatan terhadap adat, pengelolaan sampah, dan pembagian manfaat ekonomi yang adil harus menjadi bagian dari perencanaan. Pariwisata yang baik bukan hanya mendatangkan pengunjung, melainkan menjaga agar tempat yang dikunjungi tetap layak dihuni oleh masyarakatnya.
Dari Kesepakatan Menuju Manfaat Bersama
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut dengan Presiden Republik Korea Lee Jae Myung di Istana Kepresidenan Republik Korea (Setpres)
Peningkatan status hubungan Indonesia–Korea Selatan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus akan memiliki makna lebih besar apabila diterjemahkan ke dalam program yang dapat dirasakan masyarakat. Untuk itu, terdapat tiga langkah yang patut diprioritaskan.
Pertama, membangun program kolaborasi kreatif jangka panjang yang menyediakan pendanaan, pelatihan, produksi bersama, dan akses distribusi bagi talenta kedua negara. Kedua, mengintegrasikan promosi kebudayaan dengan pariwisata melalui festival, pertukaran komunitas, dan paket wisata berbasis pengalaman lokal. Ketiga, membangun mekanisme evaluasi yang mengukur manfaat kerja sama, termasuk keterlibatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, kesempatan bagi kreator muda, dan distribusi pendapatan kepada masyarakat daerah.
Ketiga langkah tersebut perlu dilaksanakan dengan prinsip kesetaraan. Indonesia dan Korea Selatan memiliki kekuatan, pengalaman, serta kebutuhan yang berbeda. Kemitraan yang sehat bukanlah hubungan ketika satu pihak hanya menjadi konsumen dan pihak lain menjadi produsen, melainkan hubungan yang memungkinkan keduanya belajar, berinovasi, dan memperoleh manfaat.
Pada akhirnya, masa depan hubungan Indonesia–Korea Selatan tidak hanya ditentukan oleh dokumen diplomatik yang ditandatangani para pemimpin. Masa depan itu juga dibentuk oleh seorang animator muda yang mendapatkan kesempatan berkarya, perajin yang menemukan pasar baru, musisi yang tampil di panggung internasional, serta keluarga di sebuah desa wisata yang memperoleh penghasilan lebih baik tanpa kehilangan identitas budayanya.
Dari gelombang Hallyu hingga cerita Nusantara, kebudayaan menawarkan bahasa yang dapat dipahami melampaui batas negara. Tantangan Indonesia bukan sekadar membuat dunia mengenal kekayaan budayanya, melainkan membangun sistem yang memungkinkan kekayaan tersebut tumbuh, dihargai, dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya.
Dengan demikian, kemitraan strategis komprehensif khusus Indonesia–Korea Selatan seharusnya tidak berhenti pada semakin eratnya hubungan Jakarta dan Seoul. Ukuran keberhasilannya adalah semakin banyaknya manusia yang dipertemukan, kesempatan yang diciptakan, dan masa depan yang dibangun bersama.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut dengan Presiden Republik Korea Lee Jae Myung di Istana Kepresidenan Republik Korea (Setpres)