Sindikat Penipuan Online di India Kian Meluas, Lansia Jadi Target Utama

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Okt 2026, 09:08
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Foto bendera India. Ilustrasi - Foto bendera India. (ANTARA/Shutterstock)

Ntvnews.id, Delhi - Jaringan penipuan daring lintas negara dilaporkan semakin berkembang di India. Kondisi ini muncul setelah penindakan aparat penegak hukum menekan operasional sejumlah pusat penipuan di kawasan Asia Tenggara.

Dilansir dari The Hindu, Kamis, 29 Oktober 2026, Sindikat tersebut menargetkan korban dari berbagai negara, terutama warga lanjut usia (lansia). Para pelaku menggunakan beragam identitas palsu, mulai dari petugas perusahaan teknologi hingga aparat pemerintah, untuk mengelabui korbannya.

Laporan investigasi The Diplomat yang ditulis Vedant Sharma menyoroti wilayah Jamtara dan Mewat sebagai daerah yang aktivitas penipuan daringnya dilaporkan berkembang di tengah kemiskinan dan minimnya kesempatan kerja.

Kajian Institut Teknologi Kanpur memperkirakan jaringan penipuan daring di India meraup sekitar USD10 miliar setiap tahun dari korban di berbagai belahan dunia. Sementara itu, penipuan investasi mata uang kripto dengan modus pig butchering dilaporkan menyebabkan kerugian sekitar USD3,6 miliar di India sepanjang 2024.

Pelaku Manfaatkan Ketakutan Korban

Para pelaku biasanya menghubungi calon korban melalui telepon dengan menyamar sebagai petugas Microsoft, Apple, atau aparat pemerintah. Mereka kemudian menciptakan situasi darurat, seperti ancaman serangan virus, pembobolan rekening, hingga masalah hukum, agar korban merasa panik dan segera mengikuti instruksi.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku mengarahkan korban untuk memberikan informasi keuangan, mentransfer uang, mencairkan tabungan, atau menyerahkan emas kepada seseorang yang mengaku bertugas mengamankan aset mereka.

Baca Juga: 19 Orang Tewas akibat Berdesakan di Acara Keagamaan India

Jaringan ini dilaporkan membidik masyarakat di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Di India sendiri, data yang dikutip dalam laporan mencatat sedikitnya 92.000 korban penipuan daring sepanjang 2024.

Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang mencatat kerugian besar akibat penipuan yang dikaitkan dengan jaringan dari India. Nilai kerugian dilaporkan meningkat dari USD807 juta pada 2022 menjadi USD1,464 miliar pada 2024.

Pada 2024, FBI dilaporkan melaksanakan operasi khusus yang berujung pada penangkapan 215 orang terkait jaringan kejahatan daring asal India.

Di Texas, Hitesh Madhubhai Patel dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun pada Februari 2025. Ia juga diwajibkan membayar restitusi sebesar USD9 juta. Sementara itu, tiga pusat panggilan di Maryland dilaporkan menipu sekitar 650 korban dengan total kerugian mencapai USD48 juta.

Kasus lainnya melibatkan Jay Sunilbharthi Goswami, warga India berusia 21 tahun yang ditangkap di New Jersey.

Menurut laporan The Hindu pada 22 Agustus 2026, Goswami diduga bertugas sebagai kurir untuk mengambil uang dan emas milik korban di New York dan New Jersey. Nilai barang yang diambil dalam sedikitnya sembilan aksi tersebut diperkirakan mencapai USD7,5 juta.

Kasus serupa juga menjerat Roshan Shah, warga India berusia 22 tahun. Pada Juli 2026, ia dijatuhi hukuman empat tahun penjara di Amerika Serikat setelah mengakui keterlibatannya dalam konspirasi pencucian uang.

Shah dilaporkan menyamar sebagai agen federal dan membantu mengambil uang dari 15 korban dengan nilai keseluruhan sekitar USD3,7 juta.

Di negara lain, Australia dilaporkan mengalami kerugian akibat penipuan serupa sebesar USD1,57 miliar pada 2025. Sementara itu, kerugian akibat penipuan daring di Kanada disebut mencapai USD461 juta.

Meski demikian, angka kerugian dari masing-masing negara memiliki cakupan pelaporan berbeda. Karena itu, seluruh nilai tersebut tidak dapat secara otomatis dikaitkan dengan sindikat yang beroperasi dari India.

Perkembangan jaringan penipuan daring di sejumlah wilayah India turut menyoroti persoalan kemiskinan, terbatasnya lapangan kerja, serta perekrutan kelompok masyarakat rentan untuk terlibat dalam kegiatan ilegal.

Laporan yang dirujuk juga menyinggung dugaan keterlibatan atau perlindungan dari sejumlah politikus lokal. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Karena beroperasi lintas negara, pemberantasan sindikat ini membutuhkan koordinasi antarnegara dan lembaga penegak hukum. Penanganannya mencakup pelacakan pelaku, rekening penampung, kurir, serta aliran dana hasil kejahatan.

Lansia Diimbau Waspadai Modus Manipulasi Psikologis

Ilustrasi - Foto bendera India. <b>(ANTARA/Shutterstock)</b> Ilustrasi - Foto bendera India. (ANTARA/Shutterstock)

Di tengah meluasnya praktik penipuan daring, masyarakat perlu mewaspadai cara pelaku memanfaatkan ketakutan, tekanan waktu, dan kepercayaan terhadap figur yang dianggap berwenang.

Panggilan dari seseorang yang mengaku sebagai petugas bank, teknisi perusahaan teknologi, polisi, petugas pajak, atau agen federal tidak boleh langsung dipercaya tanpa pemeriksaan identitas.

Masyarakat juga diimbau tidak memberikan kata sandi, kode OTP, akses jarak jauh ke perangkat, maupun informasi keuangan kepada penelepon yang identitasnya belum terverifikasi.

Permintaan untuk memindahkan uang ke rekening tertentu, menarik uang tunai, atau menyerahkan emas dengan alasan melindungi aset merupakan tanda bahaya yang patut dicurigai.

Jika menerima panggilan mencurigakan, masyarakat disarankan segera mengakhiri komunikasi dan menghubungi institusi terkait melalui nomor resmi yang dicari secara mandiri. Anggota keluarga juga dapat membantu lansia memeriksa pesan, panggilan, serta permintaan transaksi yang tidak biasa.

Apabila telanjur memberikan uang atau informasi keuangan, korban perlu segera menghubungi bank atau penyedia layanan pembayaran untuk mengamankan dana dan akun. Bukti komunikasi juga sebaiknya disimpan untuk mendukung pelaporan kepada aparat berwenang.

Berbagai kasus yang terungkap di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan India menunjukkan bahwa penipuan daring tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Kejahatan ini juga bertumpu pada manipulasi psikologis dan penyalahgunaan kepercayaan korban.

Selama jaringan kriminal masih mampu merekrut pelaksana, memindahkan hasil kejahatan, dan memanfaatkan perbedaan yurisdiksi antarnegara, pemberantasan penipuan daring akan tetap menjadi tantangan besar bagi aparat penegak hukum internasional.