Ntvnews.id, Bangkok - Sebuah gedung pencakar langit yang masih dalam tahap pembangunan di Bangkok, Thailand, mengalami keruntuhan saat gempa bermagnitudo (M) 7,7 mengguncang pekan lalu. Pemerintah Thailand kini tengah menyelidiki alasan mengapa gedung tersebut menjadi satu-satunya yang ambruk akibat gempa.
Dilansir dari Reuters, Rabu, 2 April 2025, sebuah lembaga pengawas antikorupsi sebelumnya telah melaporkan adanya kejanggalan dalam pembangunan gedung tersebut sebelum akhirnya runtuh. Insiden ini mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas.
Pengujian awal terhadap material dari reruntuhan menunjukkan keberadaan baja di bawah standar pada bangunan setinggi 30 lantai itu. Pejabat dari Kementerian Industri Thailand menyatakan bahwa analisis lebih lanjut akan dilakukan untuk menentukan apakah faktor ini berperan dalam keruntuhan gedung.
Baca Juga: Gempa Bumi 6,3 Magnitudo Guncang Maluku
Sementara itu, tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap sekitar 75 orang yang diduga terjebak di bawah reruntuhan. Gedung ini dirancang sebagai kantor bagi Kantor Audit Negara Thailand dan pembangunannya dikerjakan oleh perusahaan konstruksi asal China serta perusahaan Thailand.
Pemerintah telah mengumumkan investigasi menyeluruh terkait penyebab runtuhnya gedung tersebut. Bangunan ini menjadi satu-satunya di Bangkok yang hancur total akibat gempa besar yang mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 MAret 2025 dan getarannya terasa hingga negara-negara tetangga.
Presiden Organisasi Antikorupsi Thailand, Mana Nimitmongkol, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memperingatkan kantor audit tentang potensi masalah dalam proyek ini. Ia juga menambahkan bahwa pada Januari lalu, pemerintah sempat mengancam akan membatalkan proyek tersebut karena keterlambatan pembangunan.
Gedung ini mulai dibangun pada 2020 oleh perusahaan patungan Thailand dan China. Awalnya, proyek ini dijadwalkan selesai pada 2026, tetapi mengalami keterlambatan. Wakil Kepala Auditor, Sutthipong Boonnithi, mengungkapkan bahwa sebelum ambruk, progres konstruksi baru mencapai 30%.
Kunjungan yang dilakukan oleh kelompok antikorupsi ke lokasi proyek selama pembangunan mengindikasikan adanya kendala seperti keterlambatan, kekurangan tenaga kerja, dan kemungkinan penyelewengan anggaran. Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, telah memerintahkan badan-badan terkait untuk menyelidiki insiden ini dalam waktu satu minggu.
Penyelidikan resmi kini menyoroti perencanaan konstruksi, standar material yang digunakan, serta kemungkinan pelanggaran keselamatan selama pembangunan. Duta Besar China untuk Thailand, Han Zhinqiang, menyatakan bahwa China siap bekerja sama dalam investigasi ini.
Menteri Perindustrian Thailand, Akanat Promphan, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa baja berkualitas rendah mungkin telah digunakan dalam pembangunan gedung tersebut. Dalam enam bulan terakhir, Kementerian Perindustrian Thailand telah menutup tujuh pabrik yang memproduksi baja di bawah standar dan menyita aset senilai 360 juta baht atau sekitar Rp 176 miliar.
"Banyak pabrik ini masih menggunakan proses produksi lama dengan peralatan yang direlokasi dari Tiongkok," ujar Akanat.
Baca Juga: Kemlu RI: Belum Ada Laporan WNI Terdampak Gempa Myanmar-Thailand
Untuk memastikan transparansi, kementerian membuka uji sampel baja secara publik. Hasil pengujian awal menunjukkan adanya baja di bawah standar dalam beberapa sampel. Namun, para pejabat menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah material ini menjadi penyebab utama runtuhnya gedung.
"Kami perlu mengumpulkan lebih banyak sampel untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat setelah akses ke reruntuhan terbuka," kata Nontichai Likitaporn, seorang pejabat kementerian, dalam konferensi pers.
Para ahli dari Dewan Insinyur Thailand yang membantu survei kerusakan akibat gempa berspekulasi bahwa gedung tersebut mungkin runtuh karena penggunaan material yang tidak sesuai standar atau kesalahan dalam perencanaan konstruksi.
"Anehnya, tidak ada bangunan lain yang mengalami hal serupa. Bahkan gedung tinggi lain yang masih dalam tahap pembangunan tetap berdiri," ujar anggota Dewan Insinyur Thailand, Anek Siripanichgorn.
Sejumlah gedung pencakar langit di Bangkok memang merasakan guncangan hebat akibat gempa, hingga menyebabkan air di kolam renang lantai atas meluap, menciptakan efek "air terjun" dari ketinggian.