Ntvnews.id, Jakarta - Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan Indonesia kembali menyita perhatian publik. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, sejumlah peristiwa di sekolah menjadi sorotan luas setelah videonya beredar di media sosial.
Di tengah rentetan kasus tersebut, nama Agus Saputra mencuat sebagai salah satu sosok guru yang justru mengaku telah lama berada di posisi tertekan.
Sosok Agus Saputra
Agus Saputra merupakan guru bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Ia telah mengabdikan diri sebagai pendidik selama kurang lebih 15 tahun. Namun, di balik pengalamannya sebagai guru, Agus mengungkapkan kenyataan pahit yang ia alami selama tiga tahun terakhir, menjadi korban perundungan oleh murid-muridnya sendiri.
“Bukan satu dua orang, tapi hampir satu kelas. Ini sudah bertahun-tahun. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” ujar Agus Saputra.
Baca Juga: Denmark Perkuat Militernya di Greenland
Peristiwa yang kemudian viral terjadi pada Selasa (13/1/2026). Saat itu, Agus terlibat keributan dengan sejumlah murid yang berujung pada pengeroyokan terhadap dirinya. Video kejadian tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu berbagai reaksi publik. Pihak sekolah menyatakan insiden tersebut dipicu oleh kesalahpahaman.
Agus membeberkan kronologi kejadian yang menurutnya menjadi puncak dari tekanan yang selama ini ia pendam. Insiden bermula sekitar pukul 09.00 WIB ketika ia mendengar teriakan bernada tidak pantas dari seorang siswa saat pelajaran olahraga berlangsung. Merasa tersinggung, Agus mendatangi sekelompok siswa untuk mencari tahu siapa yang melontarkan kata-kata tersebut.
Tak lama kemudian, salah satu siswa mengaku sebagai pelaku. Agus menyebut reaksinya terjadi secara spontan.
“Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali,” tuturnya.
Situasi tak berhenti di sana. Ketegangan berlanjut hingga siang hari dan pihak sekolah akhirnya melakukan mediasi. Dalam proses tersebut, Agus mengaku mendapat tekanan agar meminta maaf kepada para siswa. Namun, ia menolak permintaan itu.
Baca Juga: Junta Myanmar Bongkar Tiga Pabrik Narkoba
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan,” tegas Agus Saputra.
Ia juga menolak anggapan bahwa tindakannya merupakan bentuk penganiayaan. Menurutnya, tamparan yang dilakukan memiliki tujuan mendidik.
“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut. Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” tambahnya.
Merasa posisinya tidak lagi dihargai, Agus bahkan menyarankan agar para siswa membuat petisi apabila memang tidak menginginkannya tetap mengajar di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Pernyataan tersebut menjadi penutup dari rangkaian kejadian yang menggambarkan relasi tegang antara guru dan murid di sekolah tersebut.
Kasus yang menimpa Agus Saputra menambah daftar panjang persoalan kekerasan dan konflik di dunia pendidikan. Namun, berbeda dari kasus-kasus lain, peristiwa ini membuka sisi lain yang jarang disorot: tekanan psikologis dan perundungan yang dialami seorang guru dari murid-muridnya sendiri.
Agus Saputra, guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi (Instagram)