Ntvnews.id, Jenewa - Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Rabu, 14 Januari 2026, memastikan bahwa tahun 2025 tercatat sebagai salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah terjadi secara global, melanjutkan tren peningkatan suhu bumi yang terus mencetak rekor.
Berdasarkan analisis gabungan WMO yang menggunakan delapan kumpulan data internasional, rata-rata suhu permukaan global pada 2025 berada 1,44 derajat Celsius di atas rerata periode praindustri 1850–1900.
WMO menjelaskan, dua dari delapan dataset menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam kurun pencatatan selama 176 tahun. Sementara itu, enam dataset lainnya mencatat 2025 sebagai tahun terpanas ketiga dalam sejarah pengamatan suhu global.
Baca Juga: WMO: Asia Selatan dan Tenggara Hadapi Ancaman Banjir Terburuk Akibat Monsun dan Siklon
Anak-anak mendinginkan diri di dalam air selama gelombang panas di Haarlem, Belanda, 2 Juli 2025. (Xinhua/Sylvia Lederer) (Antara)
Dalam laporan tersebut juga diungkapkan bahwa tiga tahun terakhir, yakni 2023, 2024, dan 2025, secara konsisten menempati posisi sebagai tiga tahun terpanas dalam seluruh dataset yang dianalisis. Rata-rata suhu gabungan untuk periode 2023–2025 tercatat mencapai 1,48 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
"Tahun 2025 dimulai dan diakhiri dengan mendinginnya kondisi La Nina, namun tetap tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer," ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Ia menambahkan bahwa suhu tinggi yang terjadi di daratan maupun lautan berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia. Fenomena tersebut mencakup gelombang panas berkepanjangan, curah hujan ekstrem, hingga siklon tropis yang semakin intens, sehingga mempertegas urgensi penguatan sistem peringatan dini.
Baca Juga: Arab Saudi Diselimuti Salju hingga Suhu di Bawah Nol Derajat, Apakah Tanda Kiamat?
WMO juga merujuk pada hasil studi terpisah yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences, yang menyebutkan bahwa suhu laut pada 2025 turut berada pada level tertinggi sepanjang sejarah pengamatan. Kondisi ini mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim global.
Menurut WMO, sekitar 90 persen kelebihan panas akibat pemanasan global tersimpan di lautan, menjadikan suhu laut sebagai indikator kunci dalam memantau dan memahami laju perubahan iklim dunia.
(Sumber: Antara)
Orang-orang mendinginkan diri di tengah teriknya musim panas di sebuah pantai di Dubrovnik, Kroasia, 9 Agustus 2025. (Grgo Jelavic/PIXSELL via Xinhua) (Antara)