Israel hingga Negara Teluk Desak Trump Tunda Serangan Militer ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jan 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)

Ntvnews.id,Tel Aviv - Israel dilaporkan berupaya membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Selain Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Oman juga disebut melakukan langkah serupa.

Dilansir dari Jerusalem Post, Sabtu, 17 Januari 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut telah mendorong Trump untuk menahan diri dari aksi militer apa pun terhadap Iran. Informasi ini diungkap para pejabat AS di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Mengutip Al Arabiya, seorang pejabat senior AS mengatakan kepada media terkemuka New York Times bahwa Netanyahu secara langsung meminta presiden AS tersebut untuk menunda rencana serangan militer.

Seorang pejabat senior Arab Saudi juga menyampaikan kepada AFP bahwa Saudi bersama Qatar dan Oman memimpin upaya diplomatik untuk membujuk Trump agar tidak menyerang Iran, lantaran khawatir akan "dampak buruk yang serius di kawasan itu."

Sementara itu, pejabat AS lainnya mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa Trump disarankan menghindari serangan berskala besar karena kecil kemungkinannya menjatuhkan rezim Iran dan justru berpotensi memicu konflik yang lebih luas.

Baca Juga: Trump Serukan Warga Iran Terus Demonstrasi, Sebut Bantuan Segera Datang

Selain pertimbangan politik, AS juga dinilai membutuhkan tambahan aset militer di kawasan untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran, termasuk terhadap pasukan AS di Timur Tengah dan Israel. Militer AS yang saat ini tidak memiliki kapal induk di wilayah tersebut, dilaporkan tengah mengerahkan satu kapal induk dari Laut China Selatan.

Pada awal pekan ini, Washington menarik sebagian personelnya dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, yang merupakan pangkalan udara AS terbesar di Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya untuk membatasi perjalanan yang tidak penting ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut.

Meski Trump belum mengambil keputusan untuk melancarkan serangan, para pejabat AS menegaskan bahwa semua opsi masih tersedia. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan Trump telah "memperjelas bahwa semua opsi terbuka untuk menghentikan pembantaian" di Iran.

Negara Teluk Turut Melobi

Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Arab Saudi, Qatar, dan Oman kembali ditegaskan ikut membujuk Trump agar tidak menyerang Iran karena kekhawatiran akan "dampak buruk yang parah di kawasan itu."

Mengutip AFP dan Al Arabiya, seorang pejabat senior Arab Saudi menyebut ketiga negara Teluk tersebut "memimpin upaya diplomatik yang panjang dan mendesak untuk meyakinkan Presiden Trump agar memberi Iran kesempatan untuk menunjukkan itikad baik." Pejabat itu menambahkan bahwa proses dialog masih terus berjalan.

Menurutnya, langkah negara-negara Teluk itu ditujukan untuk "menghindari situasi yang tidak terkendali di kawasan itu."

"Kami memberi tahu Washington bahwa serangan terhadap Iran akan membuka jalan bagi serangkaian dampak buruk yang parah di kawasan itu," lanjut pejabat tersebut.

Baca Juga: 2 Hari Berturut-turut, Crane Proyek Jalan Tol di Pinggiran Bangkok Ambruk Tewaskan 2 Orang

Beberapa personel AS telah dipindahkan dari pangkalan militer utama di Qatar pada Rabu lalu. Staf di misi AS di Arab Saudi dan Kuwait juga diminta meningkatkan kewaspadaan seiring meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS terkait tindakan keras Iran terhadap demonstran.

Pemerintah AS berulang kali menyatakan kemungkinan melakukan intervensi atas tindakan keras otoritas Iran terhadap para demonstran. Di sisi lain, Iran menegaskan akan membalas dengan menyerang target militer serta kapal-kapal pengiriman milik AS.

Banyak pangkalan dan aset militer AS berada di kawasan Teluk. Namun, setelah beberapa kali melontarkan ancaman, Trump mengubah sikapnya dengan mengatakan telah menerima jaminan dari "sumber-sumber yang sangat penting di pihak lain" bahwa Iran tidak akan mengeksekusi mati para demonstran.

Seorang pejabat Teluk lainnya menambahkan bahwa "pesan yang disampaikan kepada Iran adalah bahwa serangan terhadap fasilitas AS di Teluk akan berdampak pada hubungan dengan negara-negara di kawasan itu."

x|close