Ntvnews.id, Jakarta - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menegaskan bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun wilayah kedaulatannya dimanfaatkan untuk tindakan militer apa pun yang ditujukan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan dalam percakapan telepon antara Mohammed bin Salman yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Arab Saudi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Saudi (SPA), Selasa, 27 Januari 2026.
Dalam pembicaraan tersebut, Bin Salman menekankan penghormatan Arab Saudi terhadap kedaulatan Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa Riyadh tidak akan memberikan akses penggunaan wilayah udara atau teritorialnya kepada pihak mana pun untuk kepentingan aksi militer terhadap Iran, apa pun alasannya.
Putra mahkota juga kembali menyatakan komitmen Arab Saudi terhadap penyelesaian konflik melalui jalur dialog dan diplomasi, guna menjaga keamanan serta stabilitas kawasan.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam terhadap Iran di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi serangan Amerika Serikat terhadap Teheran, menurut pernyataan dari kantor kepresidenan Iran.
Baca juga: 2 Jet Tempur AS Terbang Dekati Venezuela, Ketegangan dengan Washington Meningkat
Pezeshkian menegaskan bahwa kebijakan utama pemerintah Iran berlandaskan pada upaya menjaga persatuan nasional, kohesi antaretnis dan mazhab, serta penguatan solidaritas internal.
Ia juga menyoroti pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim. Menurutnya, kerja sama antarnegara Islam merupakan kunci untuk mewujudkan kawasan yang aman, maju, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
Selain itu, Pezeshkian melontarkan kritik terhadap sikap Amerika Serikat dan Israel, yang ia tuduh melakukan tekanan ekonomi, memicu konflik, serta mendukung upaya destabilisasi di Iran. Ia menilai anggapan bahwa tekanan tersebut dapat melemahkan Iran sebagai kekeliruan besar.
Pezeshkian menegaskan bahwa keterlibatan aktif dan kesadaran masyarakat Iran telah menggagalkan berbagai upaya tersebut. Ia juga menyinggung pengalaman Iran dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, yang menurutnya kerap berakhir dengan pelanggaran kesepakatan oleh pihak AS.
Meski demikian, Iran, kata Pezeshkian, tetap terbuka terhadap setiap proses yang mendorong perdamaian dan stabilitas, selama berlangsung dalam kerangka hukum internasional serta menghormati hak-hak bangsa dan negara Iran.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa seluruh opsi, termasuk tindakan militer, masih terbuka dalam menghadapi Iran. Para pejabat Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh.
(sumber Antara)
Jet tempur F-35 US Air Force. (Antara)