Ntvnews.id, Pyongyang - Operasi Amerika Serikat (AS) yang disebut berlangsung dramatis dalam menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari jabatannya pada awal Januari lalu dinilai menjadi mimpi buruk bagi pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un.
Situasi tersebut diyakini membuat Kim menyadari bahwa posisinya juga tidak sepenuhnya aman dari ancaman serupa.
Dilansir dari AFP, Kamis, 29 Januari 2026, penilaian itu disampaikan seorang mantan diplomat Korut yang telah membelot ke Korea Selatan (Korsel), penggulingan Maduro diyakini membuka mata Kim Jong Un bahwa dirinya pun berpotensi menjadi sasaran operasi “pemenggalan” kekuasaan.
Lee Ik Kyu, mantan utusan diplomatik Korut untuk Kuba, mengatakan kepada AFP bahwa operasi cepat Washington di Caracas pada awal bulan ini merupakan skenario terburuk bagi Kim Jong Un, yang pernah menjadi atasannya. Lee diketahui menjabat sebagai penasihat politik Korut di Kuba pada periode 2019 hingga 2023.
Baca Juga: Kim Jong Un Isyaratkan Program Nuklir Baru Korea Utara
"Kim pasti merasa bahwa apa yang disebut sebagai operasi 'pemenggalan' benar-benar mungkin terjadi," ujar Lee, yang kini bekerja di sebuah lembaga think-tank di Seoul, Korea Selatan.
Selama ini, kepemimpinan Korut kerap menuding AS berupaya menggulingkan pemerintahan mereka. Pyongyang juga berulang kali menegaskan bahwa pengembangan senjata nuklir dan rudal merupakan alat pencegah terhadap skenario perubahan rezim yang didalangi Washington.
Menurut Lee, yang membelot ke Korsel pada November 2023, tumbangnya Maduro diperkirakan memicu kepanikan di kalangan elite Korut yang sangat terobsesi pada isu keamanan. Ia menilai peristiwa tersebut menjadi alarm serius bagi lingkaran dalam kekuasaan Kim Jong Un.
Lee juga menyebut Kim Jong Un akan "merombak seluruh sistem terkait keamanannya dan terkait tindakan balasan jika terjadi serangan terhadap dirinya".
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026 mempublikasikan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Istimewa)
Sejak menetap di Korea Selatan, Lee yang kini berusia 53 tahun dikenal sebagai pengamat vokal mengenai Korea Utara. Ia rutin menulis kolom di salah satu surat kabar terbesar di Korsel dan telah menerbitkan memoar berbahasa Jepang berjudul “Kim Jong Un yang Saya Saksikan”, sementara versi bahasa Inggrisnya tengah disiapkan.
Ia menambahkan bahwa pengalamannya tinggal di Korsel serta menyaksikan dinamika politik beberapa tahun terakhir semakin memperkuat pandangannya terhadap demokrasi liberal.
Baca Juga: Kim Jong-Un Tinjau Kapal Selam Nuklir dan Awasi Uji Rudal Baru Korea Utara
"Korea Selatan bisa tetap berjalan tanpa presiden selama berbulan-bulan setelah pemakzulan. Bahkan tanpa presiden, sistemnya bekerja dengan sangat baik," katanya, merujuk pada pemakzulan Yoon Suk Yeol dari jabatan Presiden Korea Selatan beberapa waktu lalu.
Menurut Lee, kondisi seperti itu mustahil terjadi di Korea Utara. "Korea Utara telah sepenuhnya mendewakan kepemimpinannya. Mereka tidak dapat memberikan gagasan kepada rakyatnya bahwa apa yang disebut sebagai pemimpin tertinggi mereka benar-benar dapat digulingkan oleh kehendak rakyat," tutupnya.
Kim Jong Un - Pemimpin Korea Utara (Antara)