Ntvnews.id, Gaza - Sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak Sabtu pagi. Laporan tersebut disampaikan Al Jazeera dengan mengutip sejumlah sumber medis setempat.
Ironisnya, eskalasi kekerasan ini terjadi hanya sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali Penyeberangan Rafah, satu-satunya akses yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir. Jika terealisasi, pembukaan Rafah akan menjadi yang pertama sejak Mei 2024, setelah berbulan-bulan wilayah tersebut terisolasi akibat konflik berkepanjangan.
Baca Juga: PBB: Anak-Anak Gaza Meninggal Akibat Dingin, Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk
Penyeberangan Rafah selama ini menjadi jalur utama bagi masuknya bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis warga Gaza. Namun, serangan udara yang kembali mengguncang wilayah padat penduduk itu menimbulkan kekhawatiran akan kelanjutan proses kemanusiaan yang direncanakan.
Warga Palestina terlihat setelah mereka kembali ke daerah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza pada 6 November 2025. (Antara)
Di tengah situasi genting tersebut, perhatian dunia internasional tertuju pada inisiatif terbaru Amerika Serikat. Pada 14 Januari, Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengumumkan tahap kedua dari rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Tahap lanjutan ini difokuskan pada transisi pascagencatan senjata, mencakup demiliterisasi Gaza, pembentukan pemerintahan teknokratis, rekonstruksi wilayah yang hancur, serta pelucutan senjata terhadap seluruh personel bersenjata yang tidak berwenang.
Tak berhenti di situ, Trump juga meluncurkan Dewan Perdamaian bentukan pemerintahannya pada Kamis (22/1). Lembaga ini disebut akan bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menangani krisis global, termasuk konflik di Gaza.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjamu puluhan pemimpin dunia di sela-sela Forum Ekonomi Dunia, dalam sebuah seremoni penandatanganan dokumen pendirian dewan tersebut.
“Kami berkomitmen untuk memastikan Gaza didemiliterisasi, dikelola dengan baik, dan dibangun kembali dengan indah. Ini akan menjadi rencana yang hebat, dan di situlah Dewan Perdamaian benar-benar dimulai,” ujar Trump.
Ia juga menegaskan bahwa mandat Dewan Perdamaian dapat diperluas ke berbagai konflik global lainnya, bergantung pada keberhasilan implementasi rencana perdamaian di Gaza.
(Sumber: Antara)
Kota Gaza, Palestina. (Dok.Antara)