Ntvnews.id, Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai mediator guna mencegah kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu, 1 Februari 2026, tawaran tersebut disampaikan saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Istanbul, di tengah meningkatnya ancaman tindakan dari Donald Trump serta keputusan Uni Eropa yang menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.
Dalam pertemuan itu, pemerintah Turki secara tegas menyatakan penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer oleh AS. Ankara menilai langkah tersebut tidak akan efektif dan justru berpotensi merusak stabilitas serta keamanan kawasan.
Baca Juga: Pentagon dan Gedung Putih Siapkan Beragam Skenario Serangan Militer ke Iran
Erdogan kemudian menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dengan tujuan memfasilitasi jalur komunikasi antara Teheran dan Washington agar ketegangan yang meningkat dapat segera diredakan.
Upaya diplomatik ini muncul setelah Uni Eropa secara resmi memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris, menyusul laporan tewasnya 6.479 orang dalam gelombang protes di Iran.
Menanggapi keputusan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran melontarkan kritik terhadap negara-negara Eropa dan menegaskan bahwa kekuatan militer Iran tetap berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara pada pembukaan Forum Diplomasi Antalya keempat di Antalya, Türkiye pada 11 April 2025. ANTARA/Xinhua/Mustafa Kaya (Antara)