Pria Tewas Akibat Lembur Kerja, Masih Terima Pesan Kerjaan Usai Berjam-jam Meninggal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Feb 2026, 19:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi mayat. Ilustrasi mayat. (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Seorang programmer asal China berusia 32 tahun meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak setelah menjalani jam kerja lembur. Peristiwa ini semakin menyayat hati keluarga karena delapan jam setelah wafat, almarhum masih menerima pesan tugas dari kantornya melalui ponsel.

Kisah mengenai kelelahan kerja yang berujung pada kematian tersebut dengan cepat menyebar luas di media sosial dan menggugah empati banyak netizen. Programmer bernama Gao Guanghui itu meninggal pada Sabtu di bulan November 2025.

Dilansri dari SCMP, Minggu, 1 Februari 2026, Istri Gao, yang menggunakan nama samaran Li, menceritakan bahwa pada hari itu suaminya bangun sangat pagi dan mengeluh tidak enak badan. Meski demikian, Gao mengatakan perlu duduk dan menyelesaikan beberapa pekerjaan selagi masih mampu.

Tak lama kemudian, kondisi Gao memburuk. Ia mengalami kejang dan pingsan saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Guangdong Second Traditional Chinese Medicine Hospital menyatakan Gao meninggal dunia pada sore hari. Penyebab kematiannya disebut sebagai serangan jantung mendadak yang diduga berkaitan dengan kelelahan akibat pekerjaan.

Baca Juga: Perusahaan Wajib Beri Upah Lembur Jika Tak Liburkan Karyawan Saat Pilkada

Li mengungkapkan bahwa pada hari kematiannya, Gao tercatat mengakses sistem kerja perusahaan sebanyak lima kali. Bahkan, akun aplikasi obrolannya masih dimasukkan ke dalam grup kerja ketika ia sedang berjuang diselamatkan. Ironisnya, delapan jam setelah kematiannya, Gao masih menerima pesan berisi tugas kerja yang mendesak.

Menurut Li, pada hari-hari kerja sebelum meninggal, Gao hampir selalu pulang ke rumah setelah pukul 21.30. Kondisi tersebut dianggap wajar sejak Gao dipromosikan menjadi pemimpin tim pada tahun 2021. Li juga memperlihatkan rekaman percakapan yang menyentuh, ketika ia berulang kali meminta suaminya pulang lebih awal, setidaknya sebelum pukul 21.00. Namun Gao menolak, dengan alasan beban kerja yang berat dan tanggung jawab untuk bekerja bersama anggota timnya.

“Jika saya bisa memutar waktu, saya akan memaksanya untuk berhenti bekerja,” kata Li, seperti dikutip South China Morning Post.

Kisah Gao semakin mengundang simpati warganet setelah terungkap bahwa ia telah menjalani kehidupan yang berat sejak kecil. Sebagai anak migran yang pindah dari Provinsi Henan ke Guangzhou, Provinsi Guangdong, bersama orang tuanya, Gao semasa kecil kerap mengumpulkan sampah di jalan demi mendapatkan uang saku. Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi perangkat lunak, ia juga bekerja paruh waktu untuk membantu keuangan keluarga.

Gao menikahi teman sekolahnya dan pasangan tersebut tidak dikaruniai anak. Pada usia 16 tahun, ia pernah menulis dalam buku hariannya: “Takdir dan kesulitan saya mendorong saya untuk tumbuh dewasa. Saya perlu bekerja lebih keras lagi.”

Ilustrasi mayat <b>(freepik/ kjpargeter)</b> Ilustrasi mayat (freepik/ kjpargeter)

Seusai kepergian Gao, istrinya menerima banyak ucapan belasungkawa dari rekan kerja dan teman-teman kuliah almarhum. Salah satu cerita yang muncul adalah kisah keberanian Gao yang pernah mengejar dan menangkap pencuri tas bersama teman-teman sekelasnya. Awalnya, Li mengira cerita itu hanya bualan, namun kebenarannya dibuktikan oleh teman-teman Gao yang bahkan membagikan foto-foto kejadian tersebut.

Di China, perusahaan teknologi dikenal dengan budaya kerja yang sangat ketat, sering disebut dengan sistem “996”, yakni bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam selama enam hari dalam seminggu.

Padahal, undang-undang ketenagakerjaan China menetapkan batas maksimal kerja delapan jam per hari dan 44 jam per minggu. Namun, aturan tersebut dinilai lemah dalam penegakan. Di media sosial China, banyak pekerja mengaku sulit menemukan pekerjaan yang memberikan dua hari libur dalam seminggu.

Baca Juga: Menteri Ekraf Apresiasi Jakarta Toys dan Comics Fair 2026

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung hingga 42 persen. Sementara itu, Biro Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial yang membawahi perusahaan tempat Gao bekerja menyatakan tengah melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

Banyak warganet menyampaikan bahwa mereka merasa kisah Gao mencerminkan realitas hidup mereka sendiri dan mendesak adanya reformasi budaya kerja di China. “Sangat menyedihkan bahwa dia bekerja hingga saat-saat terakhir hidupnya. Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan itu,” tulis seorang pengguna media sosial.

Pria yang bertanggung jawab ini akhirnya bisa beristirahat,” tulis warganet lainnya.

Ada pula komentar yang berbunyi: "Perusahaan yang hanya bisa untung dari karyawannya yang bekerja lembur seharusnya bangkrut saja."

x|close