Ntvnews.id, Washington D.C - Seorang hakim federal memerintahkan agar Liam Conejo Ramos yang berusia lima tahun serta ayahnya, Adrian, segera dibebaskan dari Pusat Residensial Keluarga Texas Selatan di Dilley, Texas. Keduanya sebelumnya ditahan oleh agen imigrasi selama sekitar satu minggu.
Dilansir dari CNN Internasional, Senin, 2 Februari 2026, Liam dan Adrian dijemput agen imigrasi dari jalan masuk rumah mereka di kawasan pinggiran Minneapolis yang tertutup salju, lalu dipindahkan sejauh sekitar 1.300 mil ke fasilitas penahanan di Texas yang diperuntukkan bagi keluarga. Sejak saat itu, keduanya menjalani penahanan lebih dari sepekan.
Dalam perintahnya, pengadilan menetapkan bahwa anak tersebut dan ayahnya harus dibebaskan sesegera mungkin dan paling lambat Selasa, sembari proses kasus imigrasi mereka berjalan melalui sistem peradilan. Salinan putusan yang dibagikan kepada CNN oleh wakil hakim di ruang sidang itu pertama kali diberitakan oleh San Antonio Express-News.
“Kami sekarang bekerja sama dengan klien kami dan keluarga mereka untuk memastikan reuni yang aman dan tepat waktu,” ujar pengacara keluarga dalam pernyataan pada Sabtu.
Baca Juga: Salah Arah, 10 Penumpang Lolos dari Imigrasi Bandara Kanada
“Kami senang bahwa keluarga sekarang dapat fokus untuk bersama dan menemukan kedamaian setelah cobaan traumatis ini,” lanjutnya.
Dalam pendapat yang bernada keras, Hakim Distrik AS Fred Biery menegur apa yang ia sebut sebagai ‘ketidaktahuan pemerintah tentang dokumen sejarah Amerika yang disebut Deklarasi Kemerdekaan’. Ia mengutip keluhan Thomas Jefferson terhadap ‘seorang calon raja otoriter’ dan menyatakan bahwa saat ini masyarakat “mendengar gema sejarah itu”.
Penahanan terhadap Liam ditambah beredarnya foto seorang agen yang memegang ransel Spider-Man milik bocah tersebut ketika ia menatap dari balik topi kelinci kartun memicu kemarahan publik yang kian meluas terhadap penindakan imigrasi besar-besaran pemerintahan Trump di Minneapolis.
Bendera Amerika Serikat/ist
Dalam langkah yang jarang terjadi dalam penulisan putusan yudisial, hakim turut menyertakan foto Liam yang telah menjadi sorotan luas di bagian akhir pendapatnya, tepat di bawah tanda tangannya, disertai rujukan pada ayat Alkitab Matius 19:14 dan Yohanes 11:35.
Kasus Liam, tulis Biery, berawal dari “upaya pemerintah yang salah kaprah dan tidak kompeten dalam mengejar kuota deportasi harian, bahkan jika itu mengharuskan trauma pada anak-anak”.
“Mengamati perilaku manusia menegaskan bahwa bagi sebagian dari kita, nafsu jahat untuk kekuasaan tanpa batas dan penerapan kekejaman dalam pencariannya tidak mengenal batas dan tidak memiliki rasa kemanusiaan,” tulis hakim tersebut.
“Dan hukum diabaikan,” tambahnya.
Baca Juga: Penembakan Fatal oleh Agen Imigrasi di Minneapolis Picu Kontroversi, Trump Tuduh Korban Teroris
Biery juga mengkritik penggunaan surat perintah administratif yang kerap dipakai agen imigrasi federal dalam melakukan penangkapan. Menurutnya, surat tersebut tidak memuat tanda tangan hakim.
“Surat perintah administratif yang dikeluarkan oleh cabang eksekutif kepada dirinya sendiri tidak memenuhi syarat sebagai bukti yang cukup. Itu disebut rubah yang menjaga kandang ayam. Konstitusi mensyaratkan pejabat peradilan yang independen,” tegasnya.
Meski demikian, Biery mencatat bahwa Liam dan ayahnya masih berpotensi menghadapi deportasi akibat sistem imigrasi Amerika Serikat yang ia sebut “kuno”. Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut seharusnya dijalankan melalui kebijakan yang lebih tertib dan manusiawi dibandingkan praktik yang berlangsung saat ini.
Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat