Ntvnews.id, Sumba Barat Daya - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan lebih dari enam bulan di Posyandu Pos 1 Desa Radamata Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan dampak nyata terhadap kesehatan ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Kenaikan berat badan, perbaikan kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK), hingga meningkatnya keaktifan balita menjadi indikator perubahan tersebut.
Kader Posyandu Desa Radamata, Noviana Lede, menjelaskan total sasaran penerima manfaat di Pos 1 mencapai 127 orang, terdiri dari 99 balita, 14 ibu menyusui, dan 14 ibu hamil. Distribusi makanan dilakukan setiap hari, menyesuaikan waktu pengantaran dari dapur.
“Selama pemantauan kami sebagai ibu kader, memang ada perubahan. Mulai dari tinggi badan, berat badan balita, ibu menyusui, ibu hamil juga ada perubahan,” ujarnya saat ditemui di Posyandu Radamata, beberapa waktu lalu.
Salah satu dampak signifikan terlihat pada ibu hamil dengan kondisi KEK. Dari pemantauan, terdapat dua ibu hamil yang mengalami KEK sebelum rutin mengonsumsi MBG. Setelah tiga hingga empat bulan konsumsi rutin, terjadi perbaikan kondisi.
Baca Juga: Dari Balik Dapur MBG, Eks Narapidana Menata Ulang Hidupnya
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan lebih dari enam bulan di Posyandu Pos 1 Desa Radamata Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. (Istimewa)
Kasus lain yang menjadi perhatian adalah seorang ibu hamil berusia 15 tahun dengan risiko tinggi karena usia muda dan postur tubuh pendek. Saat pertama dipantau, ia juga mengalami KEK. Dengan pendampingan bidan dan konsumsi rutin MBG, ia akhirnya melahirkan secara normal dengan berat bayi 2,5 kilogram.
“Waktu itu kami takut lahirannya Cesar, tapi ternyata dia bisa lahir normal. Berat anaknya 2,5,” jelas mama Noviana.
Sebelum program berjalan, pernah juga ditemukan kasus bayi lahir prematur dengan berat hanya satu kilogram. Perbandingan ini menjadi indikator penting perubahan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Sementara itu dampak MBG bagi Ibu menyusui, Noviana menjelaskan, dari 14 ibu menyusui penerima manfaat, 13 di antaranya memiliki produksi ASI lancar. Hanya satu ibu yang tidak dapat memproduksi ASI sejak awal dan menggunakan susu formula.
“Yang lain aman, asinya lancar,” ujar Noviana.
Baca Juga: Benarkah MBG Buat Usaha Gulung Tikar? Ibu Asal NTT Ini Membuktikan Sebaliknya
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan lebih dari enam bulan di Posyandu Pos 1 Desa Radamata Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. (Istimewa)
Selain distribusi makanan, kader bersama bidan juga rutin memberikan edukasi mengenai pola makan bergizi, manajemen stres, serta pencegahan baby blues.
Adapun perubahan pada balita, kata Noviana, setiap bulan kader selalu melakukan penimbangan dan pemantauan pertumbuhan. Hasilnya menunjukkan kenaikan berat badan yang konsisten, meski tetap dipengaruhi faktor sakit tertentu seperti diare atau infeksi.
“Memang ada yang berat badannya turun karena sakit. Tapi setelah satu bulan, ada kenaikan kembali,” katanya.
Sekitar tiga hingga empat balita dengan indikasi postur pendek tetap menjadi penerima manfaat dan menunjukkan perkembangan bertahap. Bahkan satu balita dengan riwayat paru-paru basah yang sebelumnya sering dirawat, kini lebih jarang masuk rumah sakit.
Dari sisi perilaku, menurut Noviana, keaktifan balita juga meningkat. Mereka lebih antusias datang ke posyandu.
“Anak itu terlalu aktif semua. Tidak ada yang duduk diam. Kalau lihat ompreng, langsung menangis dan minta nasi,” ujar Noviana.
Baca Juga: MBG Ciptakan Lapangan Pekerjaan Masif: Ekonomi Tumbuh dari Lapisan Terbawah
Kehadiran MBG juga meningkatkan partisipasi masyarakat. Sebelumnya, setelah imunisasi usia sembilan bulan, banyak ibu tidak lagi rutin datang ke posyandu. Kini, kunjungan meningkat signifikan.
“Setelah adanya MBG, rajin semua sudah,” katanya.
Menurut Noviana, salah satu faktor yang membuat anak lebih lahap adalah variasi menu. Di rumah, makanan cenderung sederhana dan kurang bervariasi.
“Kalau di rumah biasanya telur saja. Tidak ada tempenya, buahnya tidak ada,” ujarnya.
Melalui MBG, balita dan ibu hamil mendapat asupan protein, sayur, dan buah secara lebih lengkap. Program ini sekaligus memperkuat edukasi gizi yang selama ini diberikan kader dan bidan.
Baca Juga: Prabowo Sebut Tingkat Keracunan MBG Sangat Kecil, Klaim Program Berhasil 99,994 Persen
Harapan Tekan Stunting
Secara umum, Noviana menilai program MBG sangat berdampak dalam enam bulan terakhir.
“Ya, berdampak. Sangat berdampak,” tegasnya.
Ia berharap program ini terus berlanjut dan dapat menjangkau tiga posyandu lain di desa yang belum menerima manfaat.
Menurutnya, keberlanjutan MBG berpotensi menekan angka stunting dan gizi buruk, khususnya di Desa Radamata dan wilayah Sumba Barat Daya secara umum.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya program MBG ini. Harapan kami, semoga dapat menekan angka stunting dan gizi buruk di posyandu kami,” tutupnya.
Kader Posyandu Desa Radamata, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Noviana Lede. (Istimewa)