Ntvnews.id, Jakarta - Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada Senin memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi respons yang "menyakitkan" jika ketegangan meningkat, dan menuduh Amerika Serikat secara langsung mendukung operasi militer Israel dan ekspansi regional.
Berbicara dalam sebuah upacara peringatan, Qassem menyampaikan dalam pidato yang disiarkan oleh saluran televisi al-Manar bahwa Israel sedang menjalankan strategi "tekanan maksimal" yang bertujuan untuk memaksa konsesi politik sembari menghindari biaya perang yang lebih luas.
Dia menambahkan bahwa meskipun Israel mungkin mencapai keunggulan militer taktis dalam konfrontasi tertentu, Israel tidak akan mampu memaksakan kendali atau stabilitas yang langgeng.
Qassem menggambarkan Israel sebagai sebuah "entitas ekspansionis" yang berupaya memperluas kendali teritorial di seluruh Palestina dan kawasan tersebut.
Dia juga memperingatkan akan upaya aneksasi secara bertahap dan formal terhadap wilayah Tepi Barat yang diduduki. Qassem menyoroti perkembangan di Gaza, mengeklaim bahwa sebagian besar wilayah tersebut kini berada di bawah kendali langsung Israel.
Hizbullah dan Israel terlibat dalam pertempuran lintas perbatasan menyusul pecahnya konflik Gaza pada Oktober 2023.
Kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah pihak telah berlaku sejak 27 November 2024. Meskipun kesepakatan tersebut berlaku, Israel terus melancarkan serangan berkala di Lebanon, dengan klaim bahwa serangan tersebut bertujuan untuk melenyapkan ancaman Hizbullah.
Baca Juga: Polisi Israel Tangkap Imam Masjid Al-Aqsa
Baca Juga: Sidang Isbat Awal Puasa 2026 Kapan? Simak Jadwal Lengkap Penetapan 1 Ramadhan 1447 H
ANTARA
Komandan Militer Hizbullah, Nabil Qaouk (Twitter)