Ntvnews.id, Taheran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat. Terbaru, Teheran melontarkan ancaman bahwa pangkalan militer, fasilitas, serta aset Amerika Serikat akan menjadi sasaran apabila Washington melancarkan operasi militer.
Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, melalui surat resmi yang dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengerahkan kapal perang, jet tempur, serta perlengkapan militer lainnya ke kawasan Timur Tengah. Langkah itu disebut sebagai upaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meski Teheran menegaskan tidak memiliki program tersebut.
Dilansir dari AFP, Sabtu, 21 Februari 2026, surat Iravani juga menyinggung unggahan media sosial Trump pada Rabu lalu, di mana Presiden AS menyatakan bahwa Washington mungkin perlu menggunakan pangkalan militer Inggris, termasuk satu pangkalan di sebuah pulau di Samudra Hindia, "jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan."
Dalam surat itu, Iravani mengecam pernyataan Trump yang dinilai provokatif.
Baca Juga: AS Siap Serang Iran Akhir Pekan, Keputusan Tergantung Perintah Trump
"Pernyataan yang begitu agresif oleh Presiden Amerika Serikat...menandakan risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan tersebut, dan akan merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional," tulisnya.
Ia juga mendesak Dewan Keamanan PBB sebagai otoritas tertinggi pengambil keputusan untuk "memastikan bahwa Amerika Serikat segera menghentikan ancaman penggunaan kekuatan yang melanggar hukum."
Meski demikian, Iran menegaskan tetap membuka jalur diplomasi. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa Teheran berkomitmen "pada solusi diplomatik" dan "atas dasar timbal balik, mengatasi ambiguitas mengenai program nuklir damainya."
Ilustrasi konflik Iran vs Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)) (Antara)
Namun, Iravani juga memperingatkan konsekuensi jika Iran diserang secara militer. Ia menegaskan bahwa "semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan itu akan menjadi target yang sah dalam konteks respons defensif Iran."
Trump sendiri berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran, dengan mengaitkan ancaman tersebut pada isu penanganan demonstrasi anti-pemerintah dan program nuklir Iran. Pada Kamis, 19 Februari 2026, Trump menyatakan Iran diberi tenggat waktu maksimal 15 hari untuk mencapai kesepakatan, atau Amerika Serikat akan melancarkan serangan jika gagal tercapai.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)