Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso mengungkapkan bahwa dua Wakil Menteri Kesehatan mengakui adanya persoalan dalam prosedur mutasi dirinya. Meski demikian, kebijakan mutasi yang berujung pada pemecatan sebagai aparatur sipil negara (ASN) itu tetap dijalankan dan diduga merupakan bentuk sanksi dari Menteri Kesehatan.
"Yang saya permasalahkan adalah niatnya. Niat mutasi itu nggak benar, dan ini diaminkan oleh dua Wamenkes," ujar Piprim usai konferensi pers IDAI di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026.
Piprim menyebut Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Benjamin Paulus Octavianus memahami adanya kejanggalan dalam proses mutasinya dari RSCM ke RSUP Fatmawati. Ia menekankan keberatannya terletak pada aspek mens rea atau niat di balik kebijakan tersebut, yang diduga melibatkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Sekretaris Jenderal Kunta Wibawa Dasa Nugraha.
Baca Juga: Mantan Dirut PT CAD Divonis 4 Tahun 8 Bulan dalam Kasus Net89
Terkait tudingan mangkir kerja selama 28 hari berturut-turut, Piprim menjelaskan bahwa dirinya tetap menjalankan tugas di RSCM setelah menerima surat mutasi pada Mei. Ia baru berhenti melayani pasien setelah akses praktiknya melalui sistem Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) diputus secara sepihak.
"Saya berhenti kerja itu ketika akses DPJP saya diputus di RSCM bulan Oktober," tegasnya.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso (NTVnews)
Piprim mengaku telah menawarkan solusi kompromi dengan meminta Surat Izin Praktik (SIP) tambahan di RSUP Fatmawati agar tetap bisa bertugas tanpa meninggalkan peran pendidikan klinis di RSCM. Namun, usulan tersebut tidak diakomodasi pihak kementerian.
"Jadi, absennya saya ke Fatmawati bukan karena saya malas, tapi saya sudah tawarkan opsi. Agar tidak terbukti mutasi saya sebagai hukuman, beri saya penugasan, beri saya SIP tambahan di Fatmawati. Akan saya kerjakan dengan sebaik-baiknya," jelas Piprim.
Baca Juga: dr Piprim Beberkan Alasan Ketidakhadiran di RS Fatmawati, Tegaskan Bukan Mangkir
Sebagai dokter pendidik klinis, ia menegaskan kontribusinya dalam mencetak konsultan jantung anak guna mendukung pemerataan tenaga kesehatan di berbagai daerah. Ia meminta polemik ini tidak disederhanakan sebagai persoalan administratif semata.
"Jangan dipelintir seolah-olah ini hanya pelanggaran disiplin. Ini juga bentuknya hukuman terhadap organisasi pendidikan," pungkasnya.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso (NTVnews)