Operator SPBU Cipinang Terima Ancaman Pembunuhan oleh Oknum Aparat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Feb 2026, 11:07
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tangkapan layar kamera pengawas (closed circuit television/CCTV) terjadinya penganiayaan pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) oleh oknum diduga aparat di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin, 23 Februari 2026. ANTARA/Dokumentasi Pribadi Tangkapan layar kamera pengawas (closed circuit television/CCTV) terjadinya penganiayaan pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) oleh oknum diduga aparat di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin, 23 Februari 2026. ANTARA/Dokumentasi Pribadi (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Seorang operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, mengaku mengalami kekerasan fisik hingga ancaman pembunuhan yang diduga dilakukan oleh seorang oknum aparat yang berjenis kelamin pria.

"Saya dipukul bolak-balik. Saya lari ke belakang, ke arah fasilitas hunian sementara (mes). Dia kejar sambil bilang, 'Lari lu, mau ke mana lu, mau mati sekarang lu?'," kata salah satu operator SPBU 3413901 Lukman Hakim (19) di Jakarta Timur, Senin, 23 Februari 2026.

Peristiwa itu terjadi saat Lukman menjalankan tugas sif malam pada Minggu, 22 Februari 2026 sekitar pukul 22.00 WIB. Ia yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK menuturkan awalnya situasi SPBU dalam kondisi tenang sebelum sebuah mobil datang untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM).

"Awalnya saya lagi jaga malam, situasi lagi santai. Datang mobil pelaku masuk untuk isi bahan bakar minyak (BBM). Saya tunggu barcode-nya, tapi beberapa menit belum ditunjukkan," ujar Lukman.

Karena antrean kendaraan di belakang mulai memanjang, ia berinisiatif meminta kode batang (barcode) subsidi sebagai syarat pengisian sesuai prosedur Pertamina. Namun, barcode yang ditunjukkan tidak sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan. Pelat nomor kendaraan disebut sama, tetapi data kendaraan dalam barcode berbeda.

Baca Juga: 3 Pegawai SPBU Cipinang Diduga Dianiaya Oknum Aparat

"Mobilnya seperti Alphard, tapi di 'barcode' tertulis jenis Kijang. Sesuai standar operasional prosedur (SOP) dari Pertamina, walaupun pelatnya sama tapi kalau barcode beda, kita tidak boleh isi," ucap Lukman.

Diduga tidak terima ditegur, pria tersebut langsung marah-marah di area pengisian dan menantang para petugas.

"Seperti menantang, dia bilang, 'siapa yang berani sama saya?'," kata Lukman.

Keributan berlanjut ketika Lukman memanggil staf untuk memastikan kebijakan pengisian. Pelaku semakin tersulut emosi dan mendorong Ahmad Khoirul Anam hingga kepalanya terbentur ke mobil pelaku. Seorang perempuan yang berada di dalam mobil sempat terdengar melarang tindakan kasar tersebut.

Situasi belum mereda. Pelaku kembali menghampiri petugas lain dan menampar Abud Mahmudin yang mencoba menenangkan keadaan. Lukman sempat mengira pelaku telah meninggalkan lokasi setelah mobilnya bergerak maju, tetapi pria itu turun kembali dan menghampirinya saat ia tengah menghitung uang setoran.

"Saya dipukul bolak-balik sama dia. Nah, baru saya lari ke belakang. Lari ke mes dikejar sama dia. Warga ngomong langsung bilang ke Polsek, ya udah saya lari ke Polsek," jelas Lukman.

Baca Juga: Kapolri Perintahkan Hukuman Berat untuk Brimob Kasus Penganiayaan Anak hingga Tewas

Dalam kondisi panik, Lukman berlari menjauh dari area SPBU setelah warga menyarankannya menuju kantor polisi terdekat. Ia kemudian tiba di Polsek Pulogadung, sementara pelaku sudah tidak kembali mengejarnya.

Dua korban lainnya tetap berada di lokasi untuk meredakan situasi. Anam mengalami robek pada baju akibat tarik-menarik dan pemukulan. Keributan tersebut diperkirakan berlangsung hampir satu jam, sejak sekitar pukul 22.00 WIB hingga menjelang pukul 23.30 WIB.

Setelah menerima laporan lisan, petugas Polsek Pulogadung mendatangi lokasi bersama Lukman untuk mencari pelaku. Namun, saat pengecekan dilakukan, pria tersebut sudah tidak berada di tempat. Rekaman kamera pengawas (CCTV) di area SPBU kemudian diperiksa bersama kepolisian, termasuk jajaran dari Polda, dan barang bukti rekaman telah diamankan.

"CCTV sudah dilihat sama Polsek dan Polda. Barang buktinya ada semua. Setelah itu baru disarankan untuk buat laporan resmi," ujar Lukman.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait identitas pelaku yang diduga merupakan oknum aparat.

Para korban berharap kasus tersebut diproses secara transparan dan profesional agar memberikan rasa aman bagi pekerja SPBU yang menjalankan tugas sesuai prosedur.

Baca Juga: Menteri PPPA Dalami Kasus Brimob di Tual Aniaya Siswa Hingga Tewas

Pemilik SPBU 3413901, Ernesta, menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan kejadian penganiayaan tersebut ke Polsek Pulogadung dan para pegawai yang mengalami luka telah menjalani visum.

"Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulogadung seberang SPBU. Dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah di visum," kata Ernesta.

Sebelumnya, tiga pegawai SPBU itu diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat.

Total terdapat tiga korban, yakni satu staf dan dua operator, yaitu Ahmad Khoirul Anam yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanl Hakim yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK, serta Abud Mahmudin yang telah bekerja sekitar empat tahun sebagai operator.

Khoirul Anam mengalami tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan, sedangkan Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.

(Sumber: Antara) 

x|close