Ntvnews.id, Dhaka - Krisis bahan bakar yang dipicu konflik antara Iran dan Israel mulai berdampak hingga Bangladesh.
Pemerintah negara tersebut mengambil langkah darurat dengan menutup universitas serta membatasi penjualan bahan bakar di tengah memburuknya krisis energi yang berkaitan dengan ketegangan di Timur Tengah.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 10 Maret 20256, menyebutkan bahwa pihak berwenang memutuskan menutup seluruh universitas negeri dan swasta mulai Senin, 9 Maret 2026. Libur Idul Fitri juga dimajukan sebagai bagian dari upaya darurat untuk menghemat listrik dan bahan bakar.
Pemerintah menilai kebijakan tersebut tidak hanya akan menekan konsumsi listrik, tetapi juga mengurangi kemacetan lalu lintas yang selama ini menyebabkan pemborosan bahan bakar.
Kampus universitas diketahui menggunakan listrik dalam jumlah besar untuk kebutuhan asrama mahasiswa, ruang kelas, laboratorium, hingga pendingin ruangan. Penutupan sementara dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sistem kelistrikan nasional yang sedang mengalami defisit.
Baca Juga: Tarique Rahman Dilantik Sebagai Perdana Menteri Ke-11 Bangladesh
“Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini,” kata Kementerian Pendidikan Bangladesh dalam arahan yang disampaikan kepada pihak universitas.
Bangladesh sangat bergantung pada impor energi, dengan sekitar 95 persen pasokan energinya berasal dari luar negeri. Pada Jumat pekan lalu, pemerintah juga memberlakukan pembatasan pembelian listrik yang sempat memicu kepanikan di masyarakat dan mendorong aksi penimbunan bahan bakar.
Sebagai bagian dari langkah penghematan energi yang lebih luas, pemerintah turut meminta sekolah dengan kurikulum asing serta pusat bimbingan belajar swasta untuk menghentikan sementara kegiatan operasional. Kebijakan tersebut bertujuan menekan penggunaan listrik secara nasional.
Ilustrasi pengendara sedang mengisi BBM pada kendaraannya/ist
Pemerintah juga mengeluarkan pedoman bagi lembaga dan perkantoran untuk meningkatkan efisiensi energi, termasuk dengan memaksimalkan pencahayaan alami serta mengurangi penggunaan lampu dan konsumsi listrik yang tidak diperlukan.
Langkah-langkah ini diambil karena Bangladesh menghadapi ketidakpastian pasokan bahan bakar dan gas akibat gangguan pada pasar energi global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Konflik tersebut telah meluas menjadi krisis yang lebih besar di Timur Tengah sehingga menghambat ekspor minyak dan gas sekaligus meningkatkan biaya energi global.
Kekurangan gas yang parah bahkan memaksa Bangladesh menghentikan operasional empat dari lima pabrik pupuk milik negara. Pemerintah juga mengalihkan pasokan gas yang tersedia ke pembangkit listrik guna mencegah pemadaman listrik dalam skala luas.
Baca Juga: Stok BBM Pertamina Tak Habis dalam 21 Hari, Cadangan Terus Dijaga
Negara dengan populasi sekitar 170 juta jiwa itu kini membeli Liquefied Natural Gas (LNG) dari pasar spot dengan harga jauh lebih tinggi sambil berupaya mendapatkan tambahan pasokan untuk menutup kekurangan energi.
“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengurangi konsumsi dan memastikan stabilitas pasokan listrik, bahan bakar, dan impor,” kata seorang pejabat senior di Kementerian Tenaga Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral Bangladesh.
Sejumlah analis energi menilai langkah-langkah tersebut dapat membantu sektor energi dalam jangka pendek saat pemerintah berusaha menstabilkan impor bahan bakar dan distribusinya. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap kalender akademik dapat menimbulkan tantangan bagi mahasiswa apabila krisis energi terus berlanjut.
Hingga kini, pemerintah belum menyampaikan berapa lama kebijakan penutupan universitas akan berlangsung. Lembaga pendidikan diharapkan dapat kembali menjalankan aktivitas akademik normal setelah libur Idul Fitri apabila situasi energi sudah membaik.
Bendera Bangladesh (Istimewa)