Ntvnews.id, Jakarta - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan jumlah korban di kalangan militernya sejak pecahnya perang melawan Iran. Hingga Selasa (10/3/2026), sedikitnya tujuh tentara Amerika dipastikan tewas, sementara sekitar 140 personel lainnya mengalami luka-luka selama rangkaian pertempuran yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell. Ia menjelaskan bahwa korban luka berasal dari serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap pasukan dan fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
"Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 140 anggota militer AS telah terluka selama 10 hari serangan berkelanjutan," kata juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, pada Selasa.
Dari jumlah tersebut, delapan tentara dilaporkan mengalami luka parah dan telah mendapatkan penanganan medis intensif. Pentagon menyebut para korban dirawat dengan fasilitas medis tingkat tertinggi, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis cedera yang mereka alami.
Baca Juga: Pria Ditemukan Tewas dengan Luka Tembak di Bintaro, Polisi Selidiki
Konflik yang memicu korban di pihak militer AS ini bermula sejak 28 Februari, ketika Iran mulai melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Selain fasilitas militer AS, sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika juga ikut menjadi sasaran serangan rudal dan drone Teheran.
Serangan-serangan tersebut menimbulkan korban jiwa di kalangan militer Amerika yang ditempatkan di kawasan tersebut. Tujuh tentara AS dilaporkan tewas dalam serangan di Kuwait dan Arab Saudi, yang menjadi bagian dari gelombang serangan balasan Iran.
Data korban yang diungkap Pentagon ini menjadi gambaran awal mengenai dampak langsung konflik terhadap pasukan Amerika setelah serangkaian serangan roket dan drone yang menghantam fasilitas militer mereka di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 11 Maret 2026, Galeri24 dan UBS Naik ke Rp3,1 Juta Segram
Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, pejabat tinggi militer AS menilai Iran tidak memberikan perlawanan yang melampaui perkiraan awal Washington. Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengatakan bahwa kemampuan tempur Iran masih berada dalam batas yang telah diprediksi sebelumnya oleh militer Amerika.
"Saya pikir mereka sedang berjuang, dan saya menghormati itu, tetapi saya tidak berpikir mereka lebih tangguh dari yang kita duga," kata Caine dalam sebuah briefing di Pentagon.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa operasi militer Amerika di Iran memasuki fase yang semakin intens. Ia menyebut hari Selasa sebagai salah satu momen paling berat dalam rangkaian serangan yang dilakukan militer AS di wilayah Iran.
Di sisi lain, warga di Teheran melaporkan bahwa ibu kota Iran mengalami gelombang serangan udara besar dalam beberapa waktu terakhir. Ledakan kuat terdengar mengguncang wilayah barat kota, sementara pemadaman listrik dilaporkan terjadi secara luas di berbagai kawasan.
Mayat Tentara Amerika (Military Watch)