Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pembinaan terhadap 2.407 pedagang takjil yang ditemukan bermasalah dalam pengawasan pangan di berbagai daerah. Pembinaan tersebut dilakukan di 513 lokasi pengawasan yang tersebar di 38 provinsi untuk memastikan makanan yang dijual kepada masyarakat selama Ramadhan aman dikonsumsi.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan langkah pembinaan ini dilakukan agar para pelaku usaha tidak kembali menggunakan bahan berbahaya dalam makanan yang dijual kepada masyarakat.
"Pembinaan agar pelaku usaha tidak mengulangi penggunaan bahan berbahaya atau menjual pangan mengandung bahan berbahaya karena dapat membahayakan kesehatan masyarakat," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam konferensi pers Pengawasan Pangan Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Pengawasan terhadap pedagang takjil dilakukan karena meningkatnya aktivitas penjualan makanan berbuka puasa, baik oleh pedagang kaki lima maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama bulan Ramadhan.
Dalam pengawasan tersebut, BPOM mengambil sebanyak 5.447 sampel pangan takjil dari berbagai wilayah di Indonesia untuk dilakukan pengujian. Hasilnya, sebanyak 108 sampel atau sekitar 2 persen dinyatakan tidak memenuhi syarat keamanan pangan.
Dari sampel yang tidak memenuhi syarat itu, Taruna menjelaskan bahwa 50 sampel atau 46,3 persen di antaranya positif mengandung formalin. Bahan berbahaya tersebut umumnya ditemukan pada sejumlah produk pangan seperti mi kuning, bahan baku bakso, teri nasi, cincau hitam, tahu kotak, sambal goreng, cumi, serta tahu asin.
Selain itu, BPOM juga mendapati 35 sampel atau 32,4 persen mengandung rhodamin B. Zat pewarna tekstil tersebut biasanya ditemukan pada berbagai jenis makanan dan minuman seperti aneka kerupuk, bolu, jeli merah, es cendol, es sirup, kue mangkok, hingga minuman berwarna merah mencolok.
Pengujian juga menemukan 22 sampel atau 20,4 persen yang mengandung boraks. Bahan ini umumnya ditemukan pada mi kuning basah, lontong, kerupuk, serta sejumlah produk olahan berbahan dasar tepung. Sementara satu sampel lainnya diketahui mengandung pewarna tekstil metanil yellow pada produk tahu.
Taruna menyebut lima jenis bahan berbahaya yang paling sering ditemukan dalam pengawasan pangan tersebut yakni formalin, rhodamin B, boraks, metanil yellow, serta bahan kimia lain yang tidak diperuntukkan bagi pangan.
Selain melakukan pengawasan terhadap pedagang takjil, BPOM juga menemukan sejumlah pelanggaran di lokasi grosir Pasar Rebo, Jakarta. Pelanggaran tersebut antara lain produk dengan izin edar yang sudah kedaluwarsa, penggunaan nomor izin edar milik produk lain, hingga pemalsuan identitas produk pangan.
Di samping itu, BPOM turut melakukan pengawasan terhadap sarana produksi pangan, termasuk industri kue kering. Salah satunya melalui inspeksi di fasilitas produksi PT Mustika Citarasa yang memproduksi produk bakery guna memastikan penerapan standar keamanan pangan.
Taruna menegaskan bahwa tidak semua pedagang takjil menjual makanan yang bermasalah. Ia mencontohkan hasil pengawasan di salah satu sentra takjil di Makassar yang menunjukkan hasil baik.
"Namun tidak semua pedagang takjil jualannya bermasalah. Salah satunya di sentra takjil di Makassar yang menunjukkan hasil menggembirakan karena seluruh 45 sampel yang diuji memenuhi syarat keamanan pangan. Ini juga sebagaimana pembinaan yang dilakukan BPOM bersama pemda setempat," kata Taruna.
(Sumber: Antara)
Tangkapan layar - Kepala BPOM dalam konferensi pers Pengawasan Pangan Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026) menyatakan BPOM membina 2.407 pedagang takjil bermasalah di 513 lokasi pengawasan di 38 provinsi guna memastikan pangan yang dijual kepada masyarakat selama Ramadhan aman dan sehat untuk dikonsumsi. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo (Antara)