Ntvnews.id, Jakarta - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi hampir bersamaan di Thailand dan Singapura, dipicu dampak konflik di Timur Tengah yang mulai menekan rantai pasok energi global. Kenaikan harga ini langsung terasa di lapangan, memicu antrean panjang di SPBU hingga kekhawatiran masyarakat akan pasokan.
Di Thailand, harga solar dilaporkan naik sekitar 4–5 baht atau setara Rp2.000–Rp3.000 per liter hanya dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan, sementara distribusi dari depot justru mengalami penurunan.
Seorang senator sekaligus juru bicara Komite Senat bidang militer dan keamanan negara, Chaiyong Maneerungsakul, menilai konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran berpotensi memperburuk situasi energi.
“Bagi masyarakat tidak akan ada kekurangan minyak, tetapi mungkin akan ada dampak pada harga,” ujarnya, seperti dilansir Bangkok Post.
Baca Juga: Pramono Imbau Warga Tak Beri Harapan Palsu ke Pendatang Baru di Jakarta
Kondisi di lapangan menunjukkan tekanan yang nyata. Di sejumlah wilayah seperti Mae Hong Son hingga Chiang Rai, antrean kendaraan mengular di SPBU sejak pagi hari.
Beberapa stasiun bahkan kehabisan stok jenis BBM tertentu seperti E85 dan Gasohol 91, sementara lainnya memilih tutup lebih awal akibat keterbatasan pasokan. Pemilik SPBU lokal, Adul Payomdong, mengaku terpaksa menaikkan harga karena lonjakan biaya dari tingkat grosir.
“Saya berencana untuk menangguhkan penjualan BBM sementara karena kami tidak dapat bersaing dengan harga SPBU besar. Tetapi pelanggan tetap kami mengatakan mereka bersedia untuk terus membeli meskipun harganya disesuaikan, jadi saya memutuskan tetap beroperasi untuk saat ini,” ucapnya.
Pemerintah Thailand sendiri berupaya meredam kepanikan dengan membatasi pembelian BBM hanya untuk pengisian langsung ke kendaraan serta mempersingkat jam operasional SPBU. Namun, kekhawatiran tetap muncul, termasuk potensi meningkatnya perdagangan BBM ilegal akibat pasokan terbatas.
Di sisi lain, situasi serupa juga terjadi di Singapura. Melansir The Straits Times, harga BBM di negara kota tersebut melonjak hingga melampaui rekor tertinggi sejak 2022. Operator SPBU seperti Caltex menaikkan harga RON 95 menjadi sekitar US$3,45 per liter, melampaui level tertinggi sebelumnya.
Baca Juga: Wapres Lepas Peserta Mudik Bersama Holding BUMN Danareksa 2026
Kenaikan harga juga merata di berbagai operator lain seperti Shell, Esso, dan Sinopec, dengan harga berkisar US$3,39 hingga US$3,40 per liter. Bahkan, penyesuaian harga dilaporkan bisa terjadi lebih dari sekali dalam sehari, mencerminkan tingginya volatilitas pasar energi.
Dampaknya langsung dirasakan oleh para pengemudi, khususnya sektor transportasi. Seorang sopir taksi di Singapura mengaku pendapatannya semakin tertekan akibat lonjakan biaya operasional.
“Akan sangat membantu jika ada bantuan untuk mengurangi biaya sewa taksi karena bensin adalah salah satu pengeluaran harian terbesar kami. Setelah dikurangi biaya bensin dan sewa harian, penghasilan menjadi cukup sulit. Beberapa hari kami hanya berusaha untuk menutupi biaya sewa dan bahan bakar,” ujarnya.
Sejumlah operator transportasi seperti ComfortDelGro dan Strides Premier mencoba meredam dampak dengan menawarkan harga BBM yang lebih rendah bagi mitra pengemudi.
“Langkah-langkah ini bertujuan untuk meringankan biaya operasional dan mendukung mata pencaharian mitra pengemudi kami. Kami akan terus memantau pergerakan harga BBM dengan cermat dan menilai apakah langkah-langkah tambahan dapat diperkenalkan untuk lebih mendukung mitra pengemudi kami jika diperlukan,” ujar Khoo Gui Ju.
Lonjakan harga yang terjadi serentak di dua negara ini menunjukkan bagaimana konflik global dapat dengan cepat memengaruhi stabilitas energi regional, sekaligus membebani masyarakat di tingkat bawah.
Arsip foto - Petugas SPBU membersihkan mesin pengisian BBM sembari menunggu datangnya pasokan BBM di SPBU Shell, Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Kamis 18 September 2025. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/sgd (Antara)