Sekjen PBB Serukan Aksi Lawan Islamofobia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mar 2026, 06:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Gime5) Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Gime5) (Antara)

Ntvnews.id, New York -  Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyerukan langkah nyata secara global untuk memerangi Islamofobia dalam pernyataannya pada Senin, 16 Maret 2026.

Seruan tersebut disampaikan saat menghadiri pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB dalam rangka memperingati Hari Internasional Memerangi Islamofobia.

Dalam pidatonya, Guterres menyoroti kondisi dunia yang tengah dilanda konflik dan ketidakstabilan, yang berdampak besar terhadap berbagai kelompok masyarakat, termasuk umat Muslim.

"Konflik dan ketidakstabilan sedang melanda berbagai belahan dunia, memengaruhi banyak orang, termasuk sejumlah besar muslim," ujar Guterres, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu , 18 Maret 2026.

"Warga sipil menderita. Banyak nyawa hilang. Keluarga-keluarga terpecah belah," lanjutnya.

Baca Juga: Indonesia Enggan Dukung Resolusi DK PBB yang Kurang Berimbang pada Iran

Ia juga menekankan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di wilayah perang, tetapi juga oleh jutaan Muslim di berbagai negara yang hidup dalam kecemasan.

"Jutaan Muslim di seluruh dunia menanggung rasa sakit itu, khawatir tentang orang-orang terkasih menonton berita dengan cemas dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi besok bagi komunitas dan masa depan mereka," ujarnya.

Menurut Guterres, dunia saat ini menghadapi peningkatan gelombang kebencian dan prasangka terhadap umat Muslim.

"Kita menghadapi gelombang meningkat dari kebencian dan prasangka terhadap Muslim," tambah dia.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres.  <b>(ANTARA)</b> Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres. (ANTARA)

Ia menilai diskriminasi terhadap Muslim tidak hanya terjadi secara terbuka, tetapi juga muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti penolakan peluang dan asumsi yang tidak ditantang.

"Peluang yang secara diam-diam ditolak asumsi yang tidak ditentang pertanyaan yang dibebani kecurigaan, dan mencatat pengalaman sehari-hari ini jarang menjadi berita utama atau statistik."

Guterres juga memperingatkan bahwa retorika diskriminatif dari pihak berwenang dapat memperburuk situasi dan membuat prasangka semakin mengakar dalam masyarakat.

"Ketika narasi diskriminatif diulang oleh mereka yang memegang otoritas, prasangka menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Ketika stereotip dibiarkan tanpa tantangan, stereotip itu mengeras menjadi kebijakan," ujarnya.

Baca Juga: Sekjen PBB Antonio Guterres Kecam Serangan Udara Israel di Yaman

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa upaya menjaga keamanan harus tetap sejalan dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia, tanpa menyasar kelompok tertentu secara keseluruhan.

"Keheningan di hadapan kebencian hanya memungkinkan kebencian itu menyebar," lanjutnya.

Sebagai informasi, Majelis Umum PBB pada 2022 telah menyepakati resolusi yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional Memerangi Islamofobia. Peringatan ini menjadi pengingat akan tanggung jawab bersama dalam melawan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia.

TERKINI

Load More
x|close