Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran menegaskan tidak tertarik pada opsi gencatan senjata dalam konflik yang tengah berlangsung. Teheran justru menginginkan penghentian perang secara total dan permanen.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak mempercayai mekanisme gencatan senjata karena dianggap hanya bersifat sementara dan berpotensi memicu konflik baru di masa depan.
"Kami tidak mencari gencatan senjata karena kami tidak ingin skenario ini terulang lagi setelah beberapa waktu. Kami ingin perang berhenti sepenuhnya dan selamanya. Kami tidak percaya pada gencatan senjata, kami percaya pada berakhirnya perang," ujar Araghchi, sebagaimana dikutip dari Sputnik, Jumat, 20 Maret 2026.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Teheran menilai solusi jangka pendek seperti gencatan senjata tidak cukup untuk menjamin stabilitas jangka panjang.
Baca Juga: Menlu Iran Kritik Macron soal Sikapnya Atas Serangan AS Terhadap Infrastruktur Energi
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi juga menyinggung ketahanan sistem politik Iran setelah wafatnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani.
Ia menegaskan bahwa struktur pemerintahan Iran tetap berjalan normal dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam situasi krisis. Pengganti pejabat yang wafat, menurutnya, dapat segera ditunjuk tanpa mengganggu jalannya pemerintahan.
"Sistem politik Iran adalah struktur yang sangat kuat. Sistem tetap berjalan, dan pengganti segera ditemukan. Jika seseorang terbunuh, hal yang sama akan terjadi. Jika menteri luar negeri terbunuh, pada akhirnya akan ada yang menggantikannya," ujar Araghchi.
Ilustrasi negara Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Lebih lanjut, Iran juga menyoroti pentingnya pembaruan kesepakatan terkait jalur strategis global, yakni Selat Hormuz. Araghchi menilai diperlukan aturan baru untuk menjamin keamanan dan kelancaran pelayaran di wilayah tersebut.
Selain itu, ia membuka peluang keterlibatan pihak ketiga sebagai mediator dalam meredakan konflik. Menurutnya, sejumlah negara, termasuk China, memiliki kapasitas untuk memainkan peran tersebut.
Baca Juga: Iran Hentikan Pasokan Gas ke Irak, Listrik Hilang 3.100 MW
"Menurut saya, beberapa negara dapat bertindak sebagai perantara, termasuk China. China berhasil dan secara positif memediasi antara Iran dan Arab Saudi, dan saya yakin kedua negara mematuhi kesepakatan tersebut," kata dia.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun menolak gencatan senjata, Iran tetap membuka ruang diplomasi melalui mediasi internasional untuk mencapai akhir konflik yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Menteri Luar Iran Seyed Abbas Araghchi. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)