Harga Emas Dunia Anjlok di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Tekanan Suku Bunga

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 06:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi emas batangan. (Antara) Ilustrasi emas batangan. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Harga emas dunia mengalami penurunan tajam, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Dilansir dari Reuters, Selasa, 24 Maret 2026, kondisi tersebut menyebabkan pasar keuangan kembali bergejolak dan memengaruhi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.

Harga emas tercatat merosot lebih dari 2 persen dan sempat menyentuh level terendah dalam hampir empat bulan terakhir. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Harga emas spot dilaporkan turun sekitar 2,7 persen hingga berada di kisaran 4.366 dolar AS per ons. Bahkan, dalam sesi perdagangan, harga sempat jatuh lebih dalam. Sementara itu, kontrak berjangka emas di Amerika Serikat juga mengalami penurunan lebih tajam, mencerminkan tekanan besar di pasar logam mulia.

Pelemahan ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga energi, terutama minyak. Kondisi tersebut kemudian memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi global.

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 23 Maret 2026, Galeri24 dan UBS Kompak Stabil di Rp2,9 Juta per Gram

Dalam situasi normal, emas biasanya menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian meningkat. Namun, kali ini justru terjadi sebaliknya, di mana investor cenderung melepas aset emas. Hal ini dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi lainnya.

Selain itu, tekanan jual juga dipicu oleh aksi “long liquidation”, yaitu kondisi ketika investor melepas posisi emas untuk menutup kerugian di aset lain. Situasi ini turut mempercepat penurunan harga dalam beberapa hari terakhir.

Ilustrasi Emas <b>(FreePik)</b> Ilustrasi Emas (FreePik)

Sejak konflik di Timur Tengah memanas pada akhir Februari 2026, harga emas telah turun lebih dari 15 persen. Bahkan, dibandingkan dengan rekor tertinggi sekitar 5.594 dolar AS per ons pada Januari lalu, harga emas kini telah terkoreksi sekitar 20 persen.

Meski demikian, pergerakan harga emas masih menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat merosot tajam, harga mulai memangkas kerugian seiring perubahan sentimen pasar, termasuk pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak.

Baca Juga: Bakom RI: BAZNAS Berperan Wujudkan Visi Indonesia Emas 2045

Di sisi lain, logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Harga perak dan palladium tercatat menguat, sementara platinum justru mengalami penurunan.

Para analis memperkirakan volatilitas harga emas masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga global, serta stabilitas pasar energi dunia. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap waspada dan mencermati dinamika global sebelum mengambil keputusan investasi.

x|close