Ntvnews.id, Pyongyang - Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dalam pidato perdananya setelah kembali terpilih sebagai presiden urusan negara.
Dalam pidatonya di Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15, Kim menilai bahwa AS di bawah kepemimpinan Donald Trump tengah melakukan tindakan terorisme dan agresi di berbagai kawasan. Pernyataan tersebut diyakini merujuk pada serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, serta sejumlah aksi lain di Venezuela dan Kuba.
Kim menyatakan bahwa meskipun tindakan keras tersebut terus dilakukan, pada kenyataannya AS tidak berhasil melemahkan pihak-pihak yang menolak dominasi global.
"Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun AS sekarang menggunakan tindakan terorisme dan agresi di berbagai belahan dunia, sikap arogan, sewenang-wenang, dan gegabah mereka gagal melemahkan kemauan umat manusia yang progresif untuk menentang dominasi dan penaklukan serta mencapai kemerdekaan dan kesetaraan," kata Kim Jong Un saat menyampaikan pidato kebijakan negara di Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 DPRK, Senin, 23 Maret 2026 seperti dikutip kantor berita Korut, KCNA, Rabu, 25 Maret 2026.
Baca Juga: Terpilih Jadi Presiden Korut Lagi, Kim Jong Un Raih 99,93 Persen Suara
Lebih lanjut, Kim menilai bahwa langkah-langkah yang diambil Washington justru memicu sentimen anti-Amerika dan memperkuat solidaritas di antara negara atau kelompok yang merasa tertekan.
Menurutnya, "kekuatan-kekuatan yang bercita-cita untuk merdeka pasti akan mengatasi cobaan saat ini dan menjadi lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang mencari hegemoni."
Pidato ini menjadi yang pertama disampaikan Kim setelah kembali menjabat sebagai presiden urusan negara Korea Utara pada Senin, 23 Maret 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan bahwa Pyongyang tidak akan melepaskan senjata nuklirnya sebagai bagian dari kebijakan pertahanan utama.
Kim juga menyoroti dinamika global yang dinilainya semakin kompleks dan sulit diprediksi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah menandatangani perjanjian pertahanan dengan Rusia yang memungkinkan Korea Utara mengirim pasukannya untuk membantu Rusia dalam konflik dengan Ukraina. Menurut laporan dari kantor berita resmi Korea Utara, KCN (Antara)
"Cara yang tepat untuk mengubah ketidakpastian menjadi kepastian adalah dengan selalu mengkhawatirkan situasi terburuk daripada mencari kenyamanan, memprioritaskan manfaat jangka panjang dan strategis daripada manfaat jangka pendek, dan bercita-cita untuk kemakmuran berkelanjutan di masa depan daripada kemudahan saat ini," ucap cucu dari Kim Il-sung tersebut.
Dalam pidato yang sama, Kim juga menuding AS dan sekutunya terus mengerahkan aset nuklir strategis di sekitar wilayah Korea Utara, yang dinilai mengancam fondasi keamanan negaranya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Pyongyang tidak gentar menghadapi tekanan tersebut.
Baca Juga: Kim Jong Un Siapkan Putrinya sebagai Penerus Kekuasaan di Korea Utara
"Sebenarnya ini bukanlah hal baru bagi kami, dan keamanan negara kami dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi daripada wilayah lain di dunia. Saya yakin untuk mengatakan: Negara kita bukan lagi negara yang rentan terhadap ancaman dari negara lain, dan negara kita memiliki kekuatan untuk mengancam mereka, jika perlu," ucap Kim Jong Un.
Korea Utara sendiri diketahui memiliki hubungan erat dengan Iran, termasuk dugaan kerja sama di bidang militer dan teknologi rudal. Laporan intelijen AS sebelumnya menyebut bahwa sejumlah rudal balistik Iran dikembangkan dengan mengacu pada teknologi milik Korea Utara.
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Rapat Pleno ke-10 Komite Sentral ke-8 Partai Pekerja Korea di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat resmi Korea Utara, 2 Juli 2024. ANTARA/KCNA (Antara)